Penggunaan diksi kritis dan apatis sering kali mengalami penyempitan makna. Di tengah riuhnya media sosial, kritis kerap disempitkan menjadi sekadar keberanian bersuara lantang mengomentari isu hangat. Sebaliknya, diam atau tidak Read More …
Penggunaan diksi kritis dan apatis sering kali mengalami penyempitan makna. Di tengah riuhnya media sosial, kritis kerap disempitkan menjadi sekadar keberanian bersuara lantang mengomentari isu hangat. Sebaliknya, diam atau tidak Read More …
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya “mengapa menjadi santri hari ini terasa jauh berat dibanding generasi-generasi sebelumnya? Mengapa asrama pesantren yang dulunya tentram untuk belajar dan mengekspresikan diri, kini tak Read More …
Beberapa hari yang lalu saya cukup terkejut karena ternyata di era modern ini, di tahun 2026, saya masih mendengar ungkapan, “Buat apa wanita sekolah tinggi-tinggi? Toh, ujung-ujungnya di dapur.” Bukan Read More …
Di sebuah sudut komplek pesantren atau sekolah berbasis keagamaan, pemandangan ini tentu tidak asing: seorang pelajar tampak begitu cekatan memegang sapu, mengangkat barang, atau mengurus logistik asrama. Namun, ketika bel Read More …
Tradisi berpikir kritis dan metodologi ilmiah yang ketat dalam menguji perawi seharusnya membuat kita tidak pernah memiliki penceramah dengan modal ‘maqoli’. Sayangnya, penceramah yang mengaku bisa bahasa hewan dan jin, Read More …
Di saat jam telah menunjukkan pukul 21.15 WIB, di saat itulah para santri keluar menggendong kitab mereka yang berlapis-lapis. Tak jarang, buku kamus Al-Munawwir setebal ribuan halaman pun ikut bersanding Read More …
Kalender akademik telah menunjukkan masuknya tahun ajaran baru. Tandanya, para siswa mulai menjalani kehidupan barunya. Mereka yang baru lulus SD, mulai beradaptasi dengan SMP atau MTs-nya, yang lulus SMP, juga Read More …