Aturan Pondok Kaku atau Santri yang Manja? Menemukan Equilibrium keduanya

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya “mengapa menjadi santri hari ini terasa jauh berat dibanding generasi-generasi sebelumnya? Mengapa asrama pesantren yang dulunya tentram untuk belajar dan mengekspresikan diri, kini tak jarang memicu rasa tidak nyama hingga melahirkan fenomena boyong yang tinggi? Apakah santri masa kini yang memang terlampau manja, ataukah aturan pesantren yang gagap menangkap tantangan zaman?

Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, kepatuhan pasif tak lagi cukup untuk menjadi bekal kedepan. Hari ini, seorang santri dituntut dua hal mendasar agar tak tergerus zaman, daya kritis dan keluwesan untuk beradaptasi. Namun, disinilah pertanyaan krusialnya: apakah ekosistem dan regulasi asrama pesantren saat ini sudah sungguh-sungguh memberi ruang untuk menumbuhkan daya kritis dan sifat adaptif? atau malah membungkam kreatifitas dan tumbuh kembang santri?

Dilema Pengurus

Jika kita melangkah masuk ke dalam bilik keputusan para pengurus pesantren, kita akan menemukan sebuah pertautan dilema berat. Mereka berdiri di persimpangan dua hal besar. Pertama, ada amanah moral untuk merawat keaslian tradisi, kedisiplinan, dan idealisme yang diwariskan oleh generasi pendahulu. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan generasi baru, gen z dan alpha, yang tumbuh di era digital, dengan struktur psikologis, pola pikir, serta kebutuhan ekspresi yang sangat berbeda.

Lantas, apa yang terjadi jika aturan diterapkan secara kaku? Dampaknya langsung terasa, santri merasa tertekan, kehilangan ruang gerak, hingga akhirnya memilih boyong karena tak lagi menemukan rasa nyaman. Bagaimana jika aturan dilonggarkan demi menuruti kehendak santri? Taruhannya tak kalah fatal, pesantren berisiko kehilangan ruh keilmuan dan kedisiplinan yang menjadi fondasi utamanya.

Ketika gagal menjembatani dua kutub ini akan memicu persoalan turunan yang memprihatinkan. Budaya muthala’ah, misalnya, perlahan mulai memudar. Ketika santri merasa jenuh dan terkekang di dalam asrama, mereka cenderung mencari ruang pelarian di luar. Ironisnya, saat semangat ngaji menurun, kegiatan luar itulah yang kerap dijadikan kambing hitam.

Solusi yang ditawarkan

Apakah dilema ini bisa dikompromikan? Jawabannya adalah sangat bisa. Penawarnya justru tidak jauh, melainkan sudah tersedia di dalam rumah kita sendiri.

Kita amat beruntung memiliki warisan tradisi musyawarah yang begitu berharga dari para masyayikh, salah satunya teladan luhur dari K.H. Asyari Marzuqi. Beliau selalu menanamkan budaya dialog yang inklusif, terbuka, dan penuh kelapangan dada. Bagi beliau, setiap persoalan dan dinamika idealnya didudukkan bersama melibatkan semua pihak.

Pertanyaan selanjutnya, dialog seperti apa yang kita butuhkan hari ini?

Tentu bukan perdebatan liar yang sengaja diumbar di khalayak ramai hanya untuk saling melemahkan, mengendorkan semangat, dan menghilangkan peran. Dialog yang kita harapkan adalah ruang yang produktif dan berorientasi pada solusi menuju titik temu,

Untuk mencapai titik temu tersebut, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi yaitu saling memahami realitas dan keadaan. Di satu sisi, pengurus perlu bijak menyelami kondisi psikologis generasi baru tanpa terus-menerus mengagungkan keindahan masa lalu. Di sisi lain, santri pun harus belajar meresapi esensi tradisi tanpa menuntut kebebasan tanpa batas.

Menuju Regulasi yang Adaptif dan Humanis

Pada akhirnya, pilihan kita bukanlah antara mempertahankan aturan yang kaku atau membiarkan santri bebas. Kunci sebenarnya terletak pada keberanian membangun regulasi yang adaptif melalui ruang dialog yang jujur dan transparan.

Ketika ruang dialektika dibuka, pesantren tidak lagi dirasakan sebagai tempat yang mengekang, melainkan sebagai kawah candradimuka yang ramah bagi tumbuh kembang santri. Budaya muthala’ah dan kesadaran belajar mandiri pun akan tumbuh kembali secara alami, lahir dari kesadaran diri santri masing-masing, bukan dari paksaan sistem. Dari sinilah akan lahir generasi santri yang kokoh memeluk nilai tradisi, namun tetap tajam daya kritisnya dan lincah beradaptasi di tengah gelombang perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *