YOGYAKARTA – Dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta, menggelar agenda kajian bertema Nafahaat Al Hikmah – “Meneladani Kemuliaan Akhlaq dan Sanad Keilmuan” pada Selasa (20/10/2026). Forum ini menghadirkan Lora Ismael Al-Kholily, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai narasumber.
Ratusan santri Nurul Ummah hingga ustadz memadati lokasi acara dengan penuh antusiasme. Momen Silaturahmi ini juga merupakan silaturahmi pertama Pondok Pesantren Nurul Ummah dengan Lora Ismael Al-Kholily dan menjadi catatan penting dan bersejarah dalam sebuah forum majelis ilmu.
Sanad Keilmuan sebagai Izin Dakwah
Acara dibuka dengan sambutan dari Gus Haqy yang menggarisbawahi pentingnya keterikatan sanad dalam transmisi ilmu agama. Menurutnya, mengaji yang dibersamai dengan mata rantai sanad yang jelas bukan hanya menghadirkan keberkahan, melainkan juga menjadikan dakwah lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
“Ketika seseorang tampil menjadi da’i, ia harus berbekal bi idznihi atau izin serta sanad keilmuan yang sahih. Tidak semua orang bisa sembarangan menyampaikan risalah agama tanpa sandaran sanad yang kokoh,” tegas Gus Haqy dalam sambutannya.
Menumbuhkan Kebanggaan Menjadi Santri
Memasuki sesi mau’idloh hasanah, Lora Ismael Al-Kholily mengawali pemaparannya dengan menyuntikkan optimisme kepada para santri. Beliau menegaskan bahwa para penuntut ilmu syariat adalah insan pilihan yang masa depannya telah dipersiapkan secara istimewa oleh Allah SWT.
Lora Ismael menekankan bahwa bekal fundamental yang harus tertanam di dada seorang santri adalah al-iftikhār atau al-i’tizāz yakni rasa bangga, mulia, dan terhormat atas identitas kesantriannya. Rasa bangga ini lahir karena santri memilih jalan untuk menyerupai orang-orang mulia pendahulu mereka.
Untuk mengilustrasikan pentingnya sanad, Lora Ismael mengutip catatan Imam An-Nawawi dalam Manaqib Al-Imam Ibnu Suraij. Dalam risalahnya, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa Ibnu Suraij merupakan kakek ke-7 dalam jalur sanad fikih beliau. Catatan tersebut menunjukkan betapa para ulama terdahulu sangat menjaga kesadaran bahwa proses menuntut ilmu adalah ikhtiar menyambungkan diri dengan tokoh-tokoh mulia dari generasi ke generasi.
Menariknya, Lora Ismael juga menyinggung tren kekinian anak muda seperti fenomena cosplay. “Jika anak-anak muda hari ini bisa begitu bangga meniru dan menyerupai tokoh fiksi atau anime yang tidak nyata, maka para santri harus jauh lebih bangga karena meniru akhlak manusia-manusia mulia yang nyata jejak sejarahnya,” ungkap beliau mengutip kaidah fatasyabbahu in lam takunu mitslahum, inna tasyabbuha bil kiromi falahu (serupailah mereka jika belum mampu menyamai sepenuhnya, karena menyerupai orang mulia adalah sebuah keberuntungan).
Mengutip dawuh Kyai Hasani Sidogiri mengenai definisi santri: wa santriyu bi syahidi halihi, man ya’tashim bihablillahil matin, wa yattabi’ sunnata rasulihil amin, wa la yamilu yumnatan wa la yusrotan. Santri sejati tercermin dari perangai dan adabnya; berpegang teguh pada tali agama Allah, konsisten mengikuti sunnah Rasulullah, serta memiliki keteguhan prinsip sehingga tidak mudah latah terombang-ambing arus zaman.
Dua Kunci Ulama Dunia: Totalitas dan Loyalitas
Lebih lanjut, Lora Ismael membedah rahasia di balik lahirnya ulama-ulama besar yang sukses menjadi pelita bagi peradaban umat di berbagai belahan dunia. Kesuksesan hakiki tersebut bertumpu pada dua pilar utama:
- Totalitas
Menuntut ilmu menuntut pengerahan segenap jiwa dan raga. Mengutip perkataan ulama, al-‘ilmu la yu’tika ba’dhahu hatta tu’tiyahu kullak (ilmu tidak akan memberikan sebagian dirinya kepadamu hingga engkau menyerahkan seluruh jiwamu kepadanya). Bentuk konkret dari totalitas ini adalah kehati-hatian dalam menjaga waktu agar tidak terbuang sia-sia untuk hal-hal di luar ilmu.
- Loyalitas
Di balik kebesaran tokoh-tokoh terkemuka, selalu ada kepatuhan dan penghormatan luar biasa kepada guru. Beliau mengutip wejangan KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim: alladzi la ya’taqidu jalalata ustadzihi, la yuflih. “barangsiapa yang tidak meyakini keagungan gurunya, maka ia tidak akan menuai keberuntungan maupun keberhasilan.
Belajar dari Air, Batu, dan Kalajengking
Di penghujung acara, saat menjawab pertanyaan audiens, Lora Ismael menyampaikan pesan filosofis yang membekas mengenai kebermanfaatan diri di tengah pergaulan sosial.
“Jadilah seperti air; di mana pun, kapan pun, selalu dibutuhkan dan mendatangkan manfaat bagi siapa pun. Jika belum mampu memberi manfaat luas layaknya air, setidaknya jadilah seperti batu; tidak memberi manfaat besar, tetapi juga tidak membahayakan lingkungan sekitar. Jangan sekali-kali menjadi seperti kalajengking, yang baru terlihat sosoknya saja sudah membuat orang lain takut dan merasa terancam,” pungkasnya.
Agenda Nafahaat Al Hikmah ditutup dengan pemberian ijazah dua sholawat. Pertama, Sholawat Ilmi dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang apabila diamalkan mengandung tiga keutamaan (fadhilah): memperoleh futuh (terbukanya pintu pemahaman ilmu), dijadikan golongan orang alim lahir dan batin, serta dihimpunkan bersama hamba-hamba yang saleh di dunia dan akhirat. Sholawatnya berbunyi:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَجْعَلُنَا بِهَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَتَحْشُرُنَا مَعَ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ فِي دُنْيَانَا وَأُخْرَانَا، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Ijazah kedua adalah Sholawat Umariyyah, yang dianjurkan dibaca saat hati terasa gundah, sumpek, dan menghadapi kebuntuan guna memohon kelapangan serta jalan keluar atas berbagai persoalan: يَا صَاحِبِي عِنْدَ كُرْبَتِي، وَيَا غِيَاثِي عِنْدَ شِدَّتِي، صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَاجْعَلْ لِي مِنْ أَمْرِي… (sebutkan / hadirkan hajat atau masalah dalam hati) …فَرَجًا وَمَخْرَجًا
Setelah pemberian ijazah, majelis yang berlangsung khidmat tersebut dipungkasi dengan lantunan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Lora Ismael Al-Kholily. Perjumpaan perdana ini meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Ummah serta turut memperteguh tekad para santri untuk terus memuliakan adab, merawat sanad keilmuan, serta mengamalkan bekal spiritual yang telah diijazahkan demi kemaslahatan umat.
