Pesantren Perkuat Literasi Media Hadapi Pertarungan Narasi di Era Digital

YOGYAKARTA — Sebanyak 21 pondok pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat kapasitas santri dalam bidang jurnalistik, produksi konten digital, dan kecerdasan buatan melalui Pelatihan Media Pesantren 2026. Kegiatan yang digelar pada 17–18 Oktober 2026 di Aula Gedung Bersama MA Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta, menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Mengusung tema “Menemukan Jalan Dakwah dan Kebaikan Baru: Belajar dari NU Online dan SKENU”, pelatihan tersebut diselenggarakan oleh NU Online, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) DIY, dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede. Peserta dari berbagai pesantren di DIY mengikuti pembelajaran bersama praktisi jurnalistik, pengembangan inovasi, pengelolaan media sosial, serta produksi konten audio-visual.

Direktur NU Online Institute, Ahmad Mundzir, menyampaikan apresiasi atas kesempatan untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar bersama para santri, asatidz, dan panitia Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede. Ia menilai antusiasme peserta selama pelatihan menjadi hal positif yang perlu terus dikembangkan melalui proses pembelajaran dan kolaborasi berkelanjutan.

Menurut Ahmad Mundzir, dakwah di era digital merupakan ruang yang perlu dimasuki santri dengan bekal ilmu dan adab. Media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang ramah dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Ia menekankan pentingnya kemandirian pesantren dalam mengembangkan media dakwah dan memproduksi konten sendiri. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang berkualitas, bertanggung jawab, dan mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Ahmad Mundzir juga mengingatkan pentingnya literasi digital dan sikap tabayyun dalam menghadapi arus informasi. Setiap informasi yang akan disebarluaskan perlu diverifikasi terlebih dahulu agar media pesantren turut menjaga akurasi informasi dan mencegah penyebaran kabar yang keliru.

Ia berharap kolaborasi antara pesantren, NU Online, dan lembaga dakwah lainnya dapat terus dirawat sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat dakwah digital. Ahmad Mundzir turut menyampaikan terima kasih kepada panitia atas kepercayaan dan kerja sama yang terjalin, seraya berharap Pondok Pesantren Nurul Ummah beserta seluruh keluarga besarnya senantiasa memperoleh keberkahan.

Ketua penyelenggara, Nuzula Nailul Faiz, mengatakan kegiatan tersebut semula dirancang untuk meningkatkan kemampuan jurnalistik santri Pondok Pesantren Nurul Ummah. Gagasan tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan pesantren lain di DIY, seiring meningkatnya kebutuhan lembaga pendidikan Islam untuk membangun narasi publik yang lebih kuat.

“Media sosial telah menjadi medan perang persepsi masyarakat atas pondok pesantren,” ujar Nuzula dalam menjelaskan latar belakang kegiatan tersebut.

Menurut dia, pesantren sebenarnya telah memiliki media dan menghasilkan beragam konten. Tantangan berikutnya bukan semata-mata meningkatkan jumlah publikasi, melainkan membangun narasi yang terarah serta memperkuat sinergi antarpesantren.

Karena itu, pelatihan dirancang untuk mempertemukan santri dengan praktisi yang berpengalaman di bidang jurnalistik, kecerdasan buatan, dan produksi konten. Penyelenggara berharap keterampilan yang diperoleh dapat membantu pesantren mengomunikasikan nilai-nilai pendidikan dan kehidupan keagamaan kepada masyarakat secara lebih efektif.

Dari Jurnalistik hingga Agentic AI

Sabtu, 17 Oktober 2026

WaktuAgendaNarasumber
08.30 – 09.30Pembukaan Perwakilan RMI DIY dan PP Nurul Ummah
09.30 – 12.00Dasar Pengambangan Literasi Pesantren, Pengenalan dan Pemetaan Dakwah PesantrenHamzah Sahal
12.00 – 13.00Ishoma
13.00 – 14.30Tantangan Santri di Era Agentic AIRobin Syihab
14.30 – 16.30Proses Kreatif SKENU.idAbdul Rohim dan Abdul Rohman

Ahad, 18 Oktober 2026

WaktuAgendaNarasumber
08.30 – 12.00Produksi Konten Audio-Visual PesantrenVedi Santoso
12.00 – 13.00Ishoma
13.00 – 16.00Praktik dan presentasi PesertaVedi Santoso
16.00 – 16.30PenutupDirektur NU Online Institute

Materi pelatihan mencakup sejumlah aspek yang berkaitan dengan perubahan ekosistem media digital. Hamzah Sahal, Direktur NU Online, menyampaikan materi tentang dasar pengembangan literasi pesantren serta pengenalan dan pemetaan dakwah pesantren di NU Online.

Robin Syihab, anggota Badan Pengembangan Inovasi Strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), membahas tantangan santri di era agentic AI. Sementara itu, Doel Rohman dan Doel Rohim, koordinator dan editor SKENU, mengulas proses kreatif di balik pengembangan SKENU.id.

Pelatihan juga menghadirkan filmmaker Vedy Santoso untuk membahas produksi konten audio-visual pesantren. Kehadiran para pemateri tersebut mempertemukan perspektif jurnalistik, perkembangan teknologi, pengelolaan media, dan keterampilan produksi konten dalam satu forum pembelajaran.

Materi-materi tersebut relevan dengan kebutuhan pesantren yang ingin menjangkau audiens lebih luas melalui platform digital. Namun, penguasaan perangkat dan teknik produksi saja tidak cukup. Kemampuan memverifikasi informasi, memahami konteks, dan menjaga akurasi pemberitaan tetap menjadi bagian penting dari kerja media pesantren.

Peserta Mendorong Keberlanjutan Program

Sejumlah peserta menyampaikan tanggapan positif terhadap pelatihan tersebut. Mauliddinho Aditya Waluyo dari Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak mengatakan dirinya memperoleh pengetahuan yang dapat dipraktikkan, meskipun penerapannya membutuhkan konsistensi.

Muhammad Amirul Khakim dari Pondok Pesantren Ar-Romly Giriloyo juga menilai kegiatan tersebut memberinya pengetahuan baru tentang ide, pemanfaatan kecerdasan buatan, dan cara memproduksi konten dengan baik. Sementara itu, Muhammad Zaki Nashiruddin dari Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem berharap kegiatan serupa kembali diselenggarakan.

Nata Maulana Taslim dari Pondok Pesantren Nurul Ummah mengusulkan agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Ia berharap program tersebut dapat menjadi awal pembentukan wadah media pesantren yang terintegrasi dengan NU Online dan NU Online Institute, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara berkala.

Gagasan itu sejalan dengan persoalan yang diidentifikasi penyelenggara: bagaimana menghubungkan kapasitas media yang telah dimiliki masing-masing pesantren ke dalam kerja sama yang lebih luas. Tanpa tindak lanjut, keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan berisiko tidak berkembang menjadi praktik media yang berkelanjutan.

Nuzula mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Persiapan kegiatan, pelibatan jaringan media pesantren sejak awal, proses penjaringan peserta, penambahan sesi praktik, dan aspek teknis menjadi beberapa catatan evaluasi.

Ia berharap RMI dan NU Online dapat terus bekerja sama dengan pesantren-pesantren di DIY untuk mengembangkan media pesantren. Baginya, keberhasilan kegiatan tidak cukup diukur dari terselenggaranya pelatihan, tetapi juga dari upaya yang dilakukan setelah acara berakhir.

Pelatihan Media Pesantren 2026 dengan demikian membuka ruang untuk memperkuat kapasitas sekaligus jejaring media pesantren di DIY. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten, menghasilkan konten yang bertanggung jawab, dan membangun komunikasi publik yang mencerminkan nilai-nilai pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *