Nafaat Al Hikmah Nurul Ummah Hadirkan Lora Ismael Al-Kholily, Ajak Santri Teladani Akhlak dan Jaga Sanad Keilmuan

YOGYAKARTA — Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Yogyakarta, menggelar pengajian Nafaat Al Hikmah dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, Selasa (20/10/2026). Bertempat di Masjid Al-Faruq, kegiatan yang diikuti santri putra dan putri tersebut menghadirkan Lora Ismael Al-Kholili dari Bangkalan sebagai pemateri dengan tema “Meneladani Akhlak dan Sanad Keilmuan”.

Pengajian yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk memperdalam pemahaman tentang pentingnya sanad keilmuan dan keteladanan akhlak ulama. Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus mempersiapkan diri sebagai generasi penerus perjuangan Nabi Muhammad saw.

Lora Ismael Al-Kholili merupakan cicit Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau merupakan alumnus Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, dan pernah menempuh pendidikan selama enam tahun di Yaman. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi bagian dari perjalanan keilmuan beliau dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya sanad, akhlak, dan tanggung jawab santri dalam menuntut ilmu.

Dalam sambutannya, Gus Haqqy Muhammad, Lc., menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Lora Ismael Al-Kholili. Ia berharap kehadiran pemateri yang memiliki sanad keilmuan luas tersebut dapat membawa keberkahan serta menambah ilmu yang bermanfaat, khususnya bagi keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Ummah.

Menjadi Santri sebagai Anugerah

Dalam penyampaian materinya, Lora Ismael menyoroti kecemasan terhadap masa depan yang kerap dialami generasi muda. Beliau mengingatkan bahwa menjadi santri merupakan anugerah dari Allah Swt. yang patut disyukuri dan dibanggakan.

“Bekal utama seorang santri adalah rasa bangga dan terhormat menjadi seorang santri karena menjadi seorang santri ialah sebuah anugerah dari Allah untuk meneladani orang-orang mulia,” tuturnya.

Lora Ismael juga menegaskan bahwa sanad keilmuan merupakan penghubung antara santri, ulama, dan generasi pendahulu. Keberadaan sanad tidak hanya berkaitan dengan kesinambungan pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan menjaga sanad, santri diharapkan mampu memahami ilmu sekaligus meneladani akhlak para guru dan ulama.

Beliau mengingatkan agar santri masa kini tidak merasa gengsi terhadap pendidikan dan tradisi keilmuan pesantren. Sebaliknya, santri perlu menunjukkan kesungguhan dan kesetiaan selama menempuh pendidikan. Kesungguhan diwujudkan dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan memperdalam ilmu, sedangkan kesetiaan tercermin dalam upaya menjaga adab serta menghormati nasihat guru dan kiai.

Selain menekankan pentingnya kesungguhan dalam belajar, Lora Ismael menganjurkan para santri untuk membiasakan diri meminta nasihat kepada guru, kiai, dan tokoh yang memiliki kebijaksanaan. Sikap tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu dan pengalaman generasi terdahulu. Santri juga diharapkan bersedia terjun langsung ke tengah masyarakat dan memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan masing-masing, sekecil apa pun kontribusinya, termasuk mengajarkan Surah Al-Fatihah.

Mengamalkan Ilmu dan Menjaga Warisan Ulama

Pesan yang disampaikan dalam pengajian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan seorang santri tidak semata-mata diukur dari banyaknya kitab yang dipelajari atau luasnya pengetahuan agama. Ilmu perlu disertai pembentukan karakter, sikap tawaduk, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi santri agar mampu mengamalkan ilmu secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pengajian Nafaat Al Hikmah, Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede berharap dapat terus menumbuhkan generasi santri yang berpegang teguh pada sanad keilmuan, menjunjung tinggi akhlak, dan mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjadi santri bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan juga menjaga warisan keilmuan para ulama dan meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.


Redaktur: Nata Maulana Taslim (Santri Mahasiswa PP Nurul Ummah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *