Bukan kata yang asing, bagi santri Nurul Ummah Kotagede dengan jargon “jamaah dan muthola’ah”. Dua kata yang tampak familiar di khazanah kehidupan pesantren ini, nyatanya memiliki makna yang melampaui arti harfiahnya. Secara mendasar, jargon ini bermuara pada teks Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. dalam QS. Ali Imron ayat 79, Allah bersabda:
كُونُوا رَبَّانِينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Secara harfiah, ayat tersebut bermakna “Jadilah hamba-hamba Allah yang ikhlas karena kamu mengajarkan Al-Kitab dan mempelajarinya.”
Dalam penggalan ayat tersebut, kata Rabbani yang dalam al-Quran versi UII 2017, diartikan sebagai “hamba-hamba Allah yang ikhlas,” pada dasarnya berfungsi layaknya ruh bagi tubuh yang terus menghidupkan dimensi spiritualnya. Maka, kata Rabbani juga bagi santri Nurul Ummah Kotagede sudah seperti ruh (baca: motivasi/semangat) untuk terus merawat tradisi “jamaah dan mutholaah”.
Pertanyaannya adalah, mengapa kata “Rabbani” memiliki posisi yang spesial bagi santri Nurul Ummah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal ini dapat ditelusuri melalui dua pendekatan, yakni pendekatan normatif dan pendekatan praktis.
Pendekatan Normatif atas Penafsiran ulama Salaf
Secara normatif, penafsiran Ibnu Katsir dan Ibnu ‘Atiyah menjadi fondasi bagi pemahaman santri Nurul Ummah tentang makna “Rabbani”. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna dari kata Rabbani ialah orang-orang yang bijaksana (hukama), berilmu (‘ulama) dan penyantun (hulama’). Pendapat tersebut ia kutip dari Ibnu Abbas, Abu Razin dan banyak ulama yang lainnya. Selain itu, makna Rabbani juga tidak berhenti hanya pada tiga ciri tersebut. Kemudian Ibnu Katsir mengutip pendapat al-Hasan, yang menegaskan bahwa Rabbani ialah mereka orang-orang yang ahli fiqih, ahli ibadah dan ahli takwa.
Penafsiran Ibnu ‘Atiyah juga selaras bahkan menguatkan dengan penafsiran Ibnu Katsir. Ia menjelaskan, bahwa kata Rabbani berasal dari kata Rabb, yang maknanya ialah orang yang mengetahui apa yang Allah ajarkan, mengamalkan ajarannya, dan mengajarkan kepada orang lain apa yang Allah ajarkan. Dalam analisis kebahasaannya, menurut Ibnu ‘Atiyah, penambahan huruf alif dan nun berfungsi sebagai mubalaghoh, yakni penguatan pada sifat dari Rabbani itu sendiri.
Dengan demikian, secara normatif dapat dipahami bahwa Rabbani ialah pribadi yang secara total tunduk pada perintah agama, sembari terus mengamalkan dan mengerjakan perintah agamanya. Indikasinya terlihat dari kebijaksanaan, pengetahuan, dan ketakwaannya merupakan buah dari ketundukkan iman kepada Allah, yang diarahkan pula untuk mengajak orang lain, untuk bergerak bersamanya berjalan kepada Allah dengan cara mengajarkan, dan mengamalkan apa yang telah Allah berikan.
Mandat bagi setiap insan Rabbani ini meniscayakan adanya relasi guru dan murid, sesuai dengan ayat al-Quran, Kuntum tu‘allimūnal-kitāba wa bimā kuntum tadrusūn (kamu mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya). Mandat inilah yang menjadi jembatan menuju jawaban kedua dari pendekatan praktis dari makna kata Rabbani. Sehingga, adanya figur guru yang mendidik murid, merupakan implementasi praktis dari Rabbani itu sendiri, dan Murabbi Ruhi Syaikhina Asyhari Marzuqi al-marhum al-maghfurlah, merupakan contoh nyata dari Rabbani.
Pendekatan Praktis: Murabbi Ruhi Syaikhina Asyhari Marzuqi
Bunga kehidupan Syaikh Asyhari Marzuqi-selanjutnya ditulis dengan Yai Asyhari, adalah contoh praktis dari seorang Rabbani. Disebut contoh praktis sebab, makna-makna yang telah diuraikan sebelumnya bermuara dan hidup dalam kepribadian beliau. Seperti kebijaksanaan, pengetahuan dan ketakwaan beliau, senantiasa menghiasi setiap memori para santri yang diasuh langsung oleh beliau pada kurun waktu 1986 hingga 2004.
Sebagai contoh kecil perihal kebijaksanaan, beliau dikenal oleh santrinya sebagai pengasuh yang selalu mengakomodasi dan mengayomi segala macam kesepakatan para santri dan pengurus akan kebijakan pesantren yang diasuhnya, selama hal itu tidak menyalahi perintah agama (baca: syariat). Kebijaksanaan ini tentunya tidak berdiri sendiri, ia berakar dari ketekunan beliau memanfaatkan waktunya untuk terus muthola’ah.
Bagi santri-santrinya, ketika mencirikan kebiasaan Yai Asyhari adalah sosok yang tidak pernah lepas dari pengetahuan, dengan membaca, membaca dan membaca ratusan kitab-kitabnya. Sepanjang hidup beliau, kitab (baca: pengetahuan) laksana istri bagi seorang suami, yang terus ada di sampingnya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit. Mudahnya, kebijaksanaan Yai Asyhari berbuah manis pada keluasan pengetahuan (muthola’ah) yang beliau miliki. Dalam hal ini, ciri kedua dari Rabbani, telah terpenuhi dengan sangat baik.
Lantas, bagaimana dengan ketakwaan beliau sebagai ciri ketiga dari Rabbani? Tentu bukan hal yang sulit untuk membuktikannya jika kita melihat keistiqomahan (jamaah) beliau.
Diceritakan oleh sang adik, Syaikh Ahmad Zabidi Marzuqi, bahwa kakanya merupakan satu-satunya pribadi yang beliau temui, yang tidak pernah lepas dari qiyam al-lail sejak masa nyantri di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak hingga beliau wafat.
Meminjam dari kaidah ushul fiqh, tentang qiyas al-awla. Sebuah kaidah yang menjelaskan bahwa apabila suatu hukum berlaku pada perkara yang tingkatannya lebih rendah, maka hukum tersebut lebih pantas, lebih kuat, dan pasti berlaku bagi perkara yang tingkatannya lebih tinggi. Kiranya dari kaidah tersebut, kita mampu menakar ketakwaan beliau.
Ketakwaan dalam amalan sunnah seperti qiyam al-lail saja beliau jaga konsistensinya layaknya amalan wajib. Maka, sudah pasti ibadah-ibadah yang berstatus wajib di hadapan Allah dikerjakan dengan kualitas yang jauh melampaui standar.
Lebih dari itu, ketiga ciri ini tidak hanya disimpan untuk diri beliau sendiri. Mengulang mandat ayat diatas, “kamu mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya,” Yai Ashyari aktif mendedikasikan hidupnya untuk mendidik umat, sehingga menyempurnakan seluruh syarat sebagai seorang Rabbani.
Buah dari Pendidikan Rabbani
Bagi seorang santri, sosok Syaikh Asyhari adalah pribadi yang tidak hanya fasih mengajarkan, tetapi lebih dahulu tuntas mengamalkan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kriteria tiga ciri Rabbani telah tersematkan dalam pribadinya. Sehingga, keteladanan paripurna dari Syaikh Asyhari bukan saja menjadi catatan historis (manaqib) dari kisah hidupnya, melainkan telah menjelma menjadi kurikulum kehidupan bagi pendidikan pesantren di Nurul Ummah, yang terus diwariskan kepada para santrinya secara terus menerus.
Dari sanalah, jargon “Jamaah dan muthola’ah,” telah bermetamorfosis dari sekedar moto pesantren menjadi pengejawantahan transmisi spiritual dan keilmuan sang Murabbi Ruhi Yai Asyhari. Melalui laku ibadah dan keilmuan beliau, santri disadarkan bahwa keluasaan pengetahuan (baca: muthola’ah) harus tetap beriringan dengan ketakwaan yang mendalam (baca: jamaah). Keduanya menjadi prasyarat mutlak bagi tumbuh dan berbuahnya kebijaksanaan mengajarkan pengetahuan agama-Rabbani.
Upaya untuk merawat prasyarat tersebut tentulah bukan perkara mudah. Sebab pada hakikatnya, menjadi Rabbani ialah membumikan dan menunaikan ayat-ayat al-Quran. Namun Yai Asyhari pernah berpesan:
“Menunaikan kandungan Al-Quran itu wajar jikalau berat, sebab Al-Qur’an itu mukjizat sekaligus syariat. Jadi tidak ada tindakan yang teramat ampuh dibandingkan dengan menunaikan isi Al-Quran.”
Berbekal keyakinan atas dawuh tersebut, pada akhirnya, menjadi santri Yai Asyhari, berarti bersedia memikul amanat untuk melAanjutkan nafas kehidupan seorang Rabbani. Memaknai QS. Ali ‘Imron ayat 79 di ruang kehidupan Nurul Ummah, mengindikasikan bagi seorang santri untuk istiqomah dalam menjaga tegaknya laku ibadah sekaligus menghidupkan tradisi intelektual. Di titik inilah predikat “santri yang Rabbani” tidak hanya menjadi menjadi klaim semata, tetapi menemukan makna esensialnya, sebagai pembawa mandat Ilahi untuk terus belajar , mengamalkan serta menyebarkan pengetahuan agama, mengikuti jejak keteladanan Yai Asyhari.
