Yograkarta — Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dengan cara yang berbeda. Pada Minggu malam (16/8/2026), kegiatan rutin diniyah di alihkan menjadi mimbar kebangsaan di Halaman Komplek B Asrama Mahasiswa. Seluruh santri berkumpul bukan hanya untuk berdo’a, melainkan juga membedah arah masa depan bangsa melalui talkshow keilmuan bertajuk “Suara Santri untuk Negeri: Menatap Masa Depan di Tengah Bangsa yang Tak Baik-baik Saja.”
Acara tirakatan yang sarat nilai religius dan nasionalisme ini menghadirkan alumni Nurul Ummah lulusan Arizona State University (ASU) Amerika Serikat, Aziz Anwar Fachrudin, S.Hum., M.A., Ph.D., sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, beliau menggarisbawahi tiga persoalan krusial yang tengah melanda Indonesia saat ini.
Krisis Ekonomi Indonesia: Harga Setinggi Kuda, Penghasilan Seberat Kura-kura
Dalam tinjauan ekonomi, Pak Aziz menjelaskan bahwa masalah ekonomi saat ini ditandai dengan inflasi yang tidak diimbangi dengan kenaikan daya beli masyarakat. Beliau memberikan perumpamaan yang tajam mengenai kondisi ini. “Harga-harga yang melambung tinggi tapi daya belinya malah cenderung menurun. Harga-harga melambung bergerak cepat bagaikan kuda, tapi penghasilan jalan kaki bagaikan kura-kura,” ujar Pak Aziz.
Selain inflasi, beliau juga menyoroti sempitnya kesempatan kerja yang membuat persaingan semakin tidak sehat, bahkan bagi lulusan sarjana. Pak Aziz mencermati banyaknya lulusan perguruan tinggi yang terpaksa melamar pekerjaan administratif kasar karena minimnya lowongan yang tersedia.
Skala Prioritas dalam Tata Kelola Pemerintahan
Sorotan kedua berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang seringkali tidak tepat dalam menentukan skala prioritas. Beliau menyayangkan bagaimana fasilitas pendidikan dan kesejahteraan guru honorer di daerah terpencil sering terabaikan, sementara pemerintah mengucurkan dana triliunan untuk program-program lain. “Sekolah itu yang prioritas pertama adalah fasilitasnya yang dibenahi atau kesejahteraan gurunya… tetapi pemerintah mengalokasikan begitu banyak dana triliunan untuk hal-hal yang prioritas pemerintah,” kritik Pak Aziz. Menurut beliau, ketidakjelasan prioritas ini menjadi masalah serius dalam tata kelola pemerintahan saat ini.
Lebih jauh, beliau memberikan kritik tajam terhadap asumsi yang menuntut rakyat terus berkontribusi pada negara. “Semestinya yang ditanya bukan rakyat berkontribusi terhadap negara. Kebalik, negara berkontribusi apa terhadap rakyat? Karena negara hidup dari pajaknya rakyat,” tegas beliau.
Kedangkalan Ruang Publik dan Ancaman ‘Utang Kognitif’
Masalah ketiga yang ditekankan oleh Pak Aziz adalah memudarnya kualitas diskusi di ruang publik akibat ketergantungan pada media sosial yang serba audio visual. Beliau menyebut fenomena shrinking attention span atau memendeknya rentang perhatian manusia yang membuat masyarakat malas membaca buku-buku berat.
Pak Aziz juga memperingatkan dampak negatif teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) jika digunakan secara berlebihan. “Orang-orang makin dimanjakan oleh teknologi itu dia akan mengalami utang kognitif (cognitive debt), karena otaknya makin jarang dipakai dia makin melemah daya pikirnya,” jelas beliau.
Sebagai solusi bagi para santri, Aziz menyarankan untuk kembali ke tradisi literasi pesantren melalui metode deep reading atau close reading. “Saya mengajak bagaimana kalau kita kembali ke cara tradisional, ke zaman para salaf, dalam pengertian kembali ke cara belajar seperti sorogan yang muthola’ah mendalam kata per kata,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sistem tradisional lebih efektif dalam melatih kemampuan kognitif dibandingkan pendidikan modern yang terlalu mengandalkan multimedia.
Memulai dari Lingkaran Terkecil
Menutup sesi diskusi, Pak Aziz berpesan agar santri tidak terbebani oleh ambisi besar mengubah bangsa secara instan, melainkan fokus pada perbaikan diri melalui prinsip 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari sekarang).
Beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga sebagai tolok ukur kebaikan seseorang sesuai hadis Nabi Muhammad saw. “Alih-alih bermimpi mengubah yang luas, mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluarganya,” pungkas beliau.
