Pondok Pesantren Nurul Ummah: Jejak Perjuangan Raden Suwardiyono di Kotagede

In Frame– dari kiri– KH. Habib Marzuqi, KH. Ahmad Marzuqi Romly, R. Suwardiyono, KH. Abu Umar. Foto diambil di Kompleks Rumah KH. Abu Umar–Kini menjadi Lokasi berdirinya MI YAPPI Ngrancang– di Dusun Ngrancang, Bleberan, Playen, Gunungkidul sekitar tahun 1967. Saat itu, KH. Marzuqi dan Habib Marzuqi menghadiri mantu kedua cucu KH. Abu Umar, atau keponakan dari R. Suwardiyono. Foto ini merupakan hasil restorasi Muhammad Royhan Assaiq, dari foto asli–hitam putih–.

Pondok Pesantren Nurul Ummah merupakan salah satu pesantren yang berada di Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Pesantren ini didirikan pada tahun 1986 oleh K.H. Marzuqi Romli dan beralamat di Jl. Raden Ronggo, KG II/982, Prenggan, Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdirinya pesantren ini tidak dapat dilepaskan dari gagasan K.H. Asyhari Marzuqi, ikhtiar K.H. Marzuqi Romli, serta keterlibatan sejumlah tokoh, termasuk R.H. Suwardiyono.

Gagasan awal pendirian pesantren bermula ketika K.H. Asyhari Marzuqi masih menempuh pendidikan di Baghdad. K.H. Marzuqi Romli mulai memikirkan tempat yang kelak dapat menjadi ruang pengabdian dan pengajaran ilmu bagi putranya setelah kembali ke Indonesia. Ia memberikan pilihan kepada K.H. Asyhari untuk meneruskan perjuangannya dan mengasuh pesantren di Giriloyo.

Namun, K.H. Asyhari memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, pesantren tidak harus selalu berada di lingkungan perkampungan yang jauh dari pusat kota. Pesantren justru dapat dikembangkan di tempat yang strategis agar dakwah dan pendidikan Islam lebih mudah menjangkau masyarakat. Selain itu, kedekatan dengan kota akan memudahkan akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Pandangan tersebut kemudian mendorong munculnya gagasan untuk mendirikan pesantren yang tidak jauh dari kawasan perkotaan.

K.H. Marzuqi Romli kemudian mulai mencari tanah yang sesuai dengan gagasan tersebut. Salah satu lokasi yang sempat menjadi pertimbangan berada di Gedongkuning, Banguntapan, Bantul. Namun, sebelum rencana tersebut dilanjutkan, muncul informasi mengenai sebidang tanah wakaf di wilayah Kotagede yang belum dimanfaatkan.

Tanah tersebut sebelumnya diserahkan kepada ayah H. Abdul Muhaimin, yang bernama Marzuki, untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umat Islam. Namun, hingga Marzuki meninggal dunia, tanah tersebut belum juga dimanfaatkan. H. Abdul Muhaimin kemudian menawarkan tanah tersebut kepada K.H. Tolhah Mansyur. Karena belum dapat memanfaatkannya, tanah tersebut selanjutnya ditawarkan kepada K.H. Syaiful Mujab, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari sinilah peran R.H. Suwardiyono mulai terlihat dalam proses berdirinya Nurul Ummah. K.H. Syaiful Mujab kemudian menyampaikan keberadaan tanah tersebut kepada Suwardiyono yang saat itu menjadi salah satu pengurus PWNU DIY. Suwardiyono yang memiliki kedekatan dengan K.H. Marzuqi Romli kemudian sowan dan menyampaikan informasi mengenai adanya tanah wakaf yang belum dimanfaatkan tersebut.

Informasi itu mendapat perhatian dari K.H. Marzuqi Romli. Ia kemudian meminta salah seorang santrinya, Kiai Nur Hadi Abdullah, untuk bersama-sama membantu mengurus dan menelusuri status tanah tersebut. Proses penelusuran dilakukan dengan memeriksa surat-surat dan keterangan yang berkaitan dengan tanah tersebut.

Dari penelusuran itu diketahui bahwa tanah tersebut tercatat atas nama Haji Anwar yang beralamat di Kepunton, Solo. Haji Anwar merupakan orang tua Haji Muslim, pemilik Wisma Proyodanan di Kotagede, Yogyakarta. Adapun ahli waris Haji Anwar adalah Siti Salimah Priyomulyono, Hj. Siti Djufainah Muslim Anwar Pranoto, M. Djahid Anwar, H. M. Dja’far Anwar Martono, H. M. Djalil Anwar Prajarto, M. Djohar Anwar, Hj. Siti Djuwairiyah Anwar, dan M. Djailani Anwar.

Para ahli waris tersebut kemudian memberikan kuasa kepada Muslim Anwar Pranoto untuk mengurus proses perwakafan tanah kepada Yayasan Pendidikan Bina Putra. Yayasan ini memiliki hubungan penting dengan perjalanan awal berdirinya Pondok Pesantren Nurul Ummah.

Yayasan Pendidikan Bina Putra didirikan pada 12 Rabiulawal 1402 H atau 8 Januari 1982 M oleh R.H. Suwardiyono. Dalam yayasan tersebut, Suwardiyono bertindak sebagai ketua dan dibantu oleh sejumlah tokoh yang menjadi pengurus pada periode pertama. Yayasan ini kemudian menjadi wadah yang mengelola dan mendukung pembangunan pesantren pada masa-masa awal.

Pendirian Yayasan Pendidikan Bina Putra memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu menyelenggarakan pendidikan untuk membentuk manusia yang bertakwa, berbudi pekerti mulia, percaya diri, mampu hidup bermasyarakat dalam semangat kekeluargaan, cakap, demokratis, serta bertanggung jawab kepada bangsa, negara, dan Allah Swt. Tujuan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan Islam yang kemudian menjadi dasar pengembangan Pondok Pesantren Nurul Ummah.

Setelah berbagai proses persiapan dilakukan, pembangunan Pondok Pesantren Nurul Ummah mulai diwujudkan. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 9 Februari 1986. Acara tersebut dilakukan oleh K.H. Marzuqi Romli, K.H. Asyhari Marzuqi, dan K.H. Nawawi Ngrukem, serta disaksikan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak.

Dua hari kemudian, pada 11 Februari 1986, Pondok Pesantren Nurul Ummah diresmikan. Peresmian tersebut dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta, Sugiarto, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta, serta masyarakat sekitar. Sejak saat itu, Nurul Ummah mulai menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran Islam di kawasan Kotagede.

Nama “Nurul Ummah” sendiri diusulkan oleh H. Ahmad Arwan Bauis. Nama tersebut kemudian dibahas dan disepakati dalam musyawarah bersama sebagai nama pesantren. Secara bahasa, Nurul Ummah berarti “Cahaya Umat”. Nama tersebut mengandung harapan agar pesantren menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama (tafaqquh fi al-din) sekaligus menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (al-sa‘adah fi al-darayn).

Dalam rangkaian sejarah tersebut, posisi Suwardiyono memiliki arti penting. Ia menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan informasi mengenai tanah wakaf dengan K.H. Marzuqi Romli, membantu membuka jalan bagi pemanfaatan tanah tersebut, sekaligus mendirikan Yayasan Pendidikan Bina Putra yang kemudian menjadi salah satu wadah awal dalam pembangunan pesantren. Dengan demikian, perjuangan Suwardiyono di Nurul Ummah merupakan bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengembangkan pendidikan Islam, khususnya melalui penyediaan lembaga pendidikan yang dapat diakses oleh masyarakat. Seiring perkembangannya, Pondok Pesantren Nurul Ummah kemudian tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam yang memiliki berbagai jenjang pendidikan. Saat ini, pesantren tersebut telah terdaftar di Kementerian Agama dan menaungi lembaga pendidikan formal, antara lain Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ummah, Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah, dan Madrasah Aliyah Nurul Ummah.

In Frame– dari kiri– KH. Habib Marzuqi, KH. Ahmad Marzuqi Romly, R. Suwardiyono, KH. Abu Umar.
Foto diambil di Kompleks Rumah KH. Abu Umar–Kini menjadi Lokasi berdirinya MI YAPPI Ngrancang– di Dusun Ngrancang, Bleberan, Playen, Gunungkidul sekitar tahun 1969. Saat itu, KH. Marzuqi dan Habib Marzuqi menghadiri mantu kedua cucu KH. Abu Umar, atau keponakan dari R. Suwardiyono. Foto ini merupakan hasil restorasi Muhammad Royhan Assaiq, dari foto asli–hitam putih–.

Penulis: Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum. (Ketua Yayasan Pendidikan Bina Putra)

Kontributor: Muhammad Royhan Assaiq, S.H.,M.H. (Alumni PP Nurul Ummah Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *