Beberapa hari yang lalu saya cukup terkejut karena ternyata di era modern ini, di tahun 2026, saya masih mendengar ungkapan, “Buat apa wanita sekolah tinggi-tinggi? Toh, ujung-ujungnya di dapur.” Bukan hal yang aneh jika spontan terlintas di pikiran Anda tentang patriarki. Padahal, ungkapan tadi jelas bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, di mana kewajiban untuk terus menuntut ilmu disetarakan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana salah satu hadis yang cukup populer di telinga orang Muslim:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi Muslim laki-laki dan Muslim perempuan.”
Sekali lagi saya tekankan, menuntut ilmu bukan hanya privilege bagi kaum laki-laki, dan sama sekali bukan hal yang benar untuk merenggut kebebasan orang lain atas nama agama.
Manusia dan segala keliruannya
Sebelum kita masuk ke pembahasan dalam lingkup agama, pernahkah Anda berpikir, apa tujuan diciptakannya organ bernama otak? Mari kita bedah perlahan.
Dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, dijelaskan bahwa otak manusia bukanlah alat yang diciptakan untuk selalu benar. “Saya selalu keliru dalam segala hal (Begitu juga Anda)”—begitu ungkapan beliau yang juga dijadikan judul salah satu bab dalam buku tersebut. Secara biologis, otak diciptakan sebagai alat untuk bertahan hidup sekaligus pusat kendali tubuh.
Otak memungkinkan kita untuk memahami lingkungan, mengingat pengalaman, memprediksi hal yang mungkin terjadi, bahkan menyadari bahwa Anda sedang ikut berpikir saat ini. Semua hal tersebut ada bukan karena otak adalah alat yang sempurna, melainkan sebatas mekanisme bertahan hidup agar manusia tidak punah.
Lantas, muncul pertanyaan: “Lalu, mengapa manusia dituntut untuk terus belajar?”
Otak kita memiliki kebiasaan buruk, yaitu menjadikan pengalaman masa lalu sebagai sebuah “kebenaran absolut”. Sebagai contoh, ketika seseorang pernah disakiti oleh seorang wanita, kerap kali muncul pernyataan absurd seperti, “Semua wanita itu sama saja.” Padahal, setiap individu memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda-beda.
Saya tekankan sekali lagi, otak manusia bukanlah alat yang selalu benar. Di sinilah letak pentingnya menuntut ilmu: agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama dan mampu memanusiakan manusia. Pada akhirnya, mencari ilmu bukanlah agar kita menjadi manusia yang paling benar, melainkan agar kita menjadi manusia yang lebih sedikit kelirunya.
.الإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ
Mengenai kesetaraan dan masa depan bangsa
Pernahkah Anda mendengar kutipan, “Jika kau ingin menghancurkan suatu negara, hancurkan dahulu kaum wanitanya”? Ungkapan yang belum jelas sumbernya ini kerap muncul di media sosial. Kutipan tersebut seolah menegaskan bahwa perempuan adalah salah satu tiang utama berdiri tegaknya suatu negara. Mengapa demikian? Tentu karena madrasah atau sekolah pertama bagi manusia yang baru lahir adalah ibunya sendiri. Oleh sebab itu, sebelum menjadi tempat belajar bagi generasi penerus, seorang perempuan membutuhkan wawasan yang luas.
Mari kita ulas sedikit mengenai patriarki. Pertanyaan paling mendasar yang muncul adalah: “Apa definisi dari patriarki itu sendiri?”
Berdasarkan pembahasan di situs resmi Universitas Islam Indonesia mengenai patriarki dalam kacamata Islam, patriarki dijelaskan sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama serta mendominasi peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti. Sementara itu, merujuk pada artikel di Kompasiana, patriarki diartikan sebagai perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam kehidupan sosial di berbagai bidang (Udry, 1994) atau sederhananya: dominasi laki-laki. Namun, pertanyaan yang pertama kali terbersit di benak saya adalah: “Benarkah saat ini kita sudah benar-benar setara?”
Mari kita tinjau hal ini dari sudut pandang agama. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim bab pertama, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ
“Pelajarilah ilmu dan ajarkanlah ilmu itu kepada manusia.”
Sebuah pesan singkat yang cukup membuat saya tertegun sejenak. Kalimat tersebut begitu ringkas, tetapi maknanya amat universal. Mengapa demikian? Subjek dalam hadis tersebut mengacu pada kata ganti umum (berlaku untuk laki-laki maupun perempuan). Di sisi lain, kata al (ال) pada kata al-‘ilm dan an-nas berfungsi sebagai penunjuk makna universal. Sederhananya, baik laki-laki maupun perempuan wajib menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu yang telah diperjuangkannya kepada sesama. Banyak orang mungkin hanya berfokus pada perintah utamanya, yaitu “menuntut ilmu”. Padahal, secara tersirat hadis tersebut juga mengajarkan kesetaraan hak dalam menimba ilmu tanpa memandang gender.
Dalam membangun suatu generasi, perempuan memegang peranan yang sangat krusial karena mereka adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan yang tinggi pada perempuan secara langsung akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.
Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim dan sebagai laki-laki, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk menyadari bahwa perbedaan jenis kelamin bukanlah alasan untuk membatasi hak seseorang dalam meraih pendidikan tinggi. Hal ini bukan bertujuan agar dunia didominasi oleh perempuan, melainkan sebuah ajakan untuk saling mendukung dan menjalankan peran masing-masing tanpa memandang rendah satu sama lain, sebagai laki-laki, dan sebagai sesama manusia.
Jadi, Apa yang sebenarnya kita cari dari ilmu?
Setelah pembahasan yang cukup panjang tadi, muncullah pertanyaan terakhir di benak saya: “Apa yang sebenarnya kita cari dari ilmu?” Mungkinkah kemajuan bangsa? Atau hanya sekadar bertahan hidup sebagaimana mekanisme dasar cara kerja otak kita? Mungkin iya, mungkin tidak. Ribuan kemungkinan lain masih tebersit di pikiran saya hingga saat ini.
Manusia terlahir dengan sifat dasar “serakah”. Terdengar kejam, bukan? Namun, sifat inilah yang memacu manusia untuk terus berkembang dan tiada henti menciptakan inovasi baru. Perkembangan era modern sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa manusia tidak pernah merasa puas, segala hal kian dimudahkan, segala sesuatu terus diperbarui.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, kita dituntut untuk terus beradaptasi agar mampu menghadapi berbagai tantangan baru, sekaligus memperluas cara pandang agar tetap manusiawi, atau dalam bahasa yang lebih lugas: agar kita tidak berubah menjadi sosok yang kehilangan rasa kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW diutus bukan sekadar untuk membekali manusia dengan berbagai wawasan teknis, melainkan untuk menyempurnakan akhlak dan tata krama dalam berinteraksi, baik kepada sesama manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan, mulai dari hal sederhana seperti cara berbicara, hingga urusan sosial seperti jual beli.
Pintar, hebat, kaya, atau pencapaian lainnya hanyalah keahlian teknis belaka. Namun, menggunakan apa yang kita pelajari untuk menghormati, mengasihi, dan menyayangi sesama adalah esensi belajar yang sesungguhnya. Hal sesederhana saling menyapa di tengah gempuran era yang individualis ini sering kali kalah oleh sikap acuh tak acuh. Padahal, dari tindakan kecil itulah rasa saling menghargai bermula.
Sebagaimana yang telah kita bahas di awal, menuntut ilmu bukanlah agar kita menjadi manusia yang paling benar, paling hebat, atau paling pintar, melainkan agar kita menjadi manusia yang lebih sedikit kelirunya, agar kita mampu memanusiakan manusia sebagaimana mestinya.
Panjang umur untuk segala hal baik.
Penulis: Jiddan Nujba (Santri PP Nurul Ummah Yogyakarta)
Referensi:
- Buku Sebuah seni untuk bersikap bodo amat karya Mark Manson
- Kitab Adab Al;‘Alim Wa Al-Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari
- wikipedia
- website UII
- Kompasiana
