Nurul Ummah dan Sorogan: Sebuah Kajian Keilmuan dan Adab Santri di Era Modern

Di saat jam telah menunjukkan pukul 21.15 WIB, di saat itulah para santri keluar menggendong kitab mereka yang berlapis-lapis. Tak jarang, buku kamus Al-Munawwir setebal ribuan halaman pun ikut bersanding menjawab pertanyaan para ustadz yang mengajar. Itulah metode sorogan kitab. Sebuah metode pembelajaran mendalami kitab kuning berbasis ilmu alat (nahwu dan shorof) yang telah menjadi tradisi di pondok pesantren. Dan Nurul Ummah Kotagede menjadi salah satu pondok yang mempertahankan metode mengaji ini sebagai program unggulannya. 

Mengutip dari berbagai sumber, sorogan merupakan metode mengkaji kitab kuning dengan face-to-face atau saling berhadapan antara kiai dan santri. Sorogan erat kaitannya dengan istilah jawa, yakni ‘sorog’ atau ‘nyorog’ yang memiliki penafsiran sebagai cara santri menyodorkan kitabnya untuk dikaji. Sebagaimana istilah tersebut, santri biasanya membawa kitab kuning dan menghadap langsung ke pengampu secara individual. Santri lantas membaca kitab sesuai pemahaman dan mengaplikasikan ilmu alat, yakni nahwu dan shorof, sementara kiai atau ustad pengampu mengoreksi atau memperbaiki bacaan yang salah. Pada perkembangannya, metode sorogan memiliki banyak variasi, seperti tes kemampuan ilmu alat, tes makna atau pemahaman, serta tes kefasihan dalam membaca dan menerapkan ilmu alat dalam kitab. 

Perkembangan metode sorogan ini menjadi salah satu program unggulan Pondok Pesantren Nurul Ummah yang sejak dulu mengedepankan proses menelaah bacaan secara mendalam atau Muthala’ah, sebagai asas pendidikannya. Di tengah gelombang modernisasi dan otomatisasi pendidikan, Nurul Ummah menjadi satu dari sekian pondok yang masih loyal mempertahankan metode sorogan sebagai tradisi pendidikan salaf. Kendati demikian, sorogan bukan lagi tradisi kuno, melainkan sebuah jawaban atas model pedagogi modern yang serba digital. Ia menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh sistem pembelajaran di balik layar kaca. Presisi keilmuan, ikatan emosional antara santri dan kiai, serta sanad keilmuan yang tidak putus dan terjaga, membuat sorogan menjadi pondasi kuat sebuah pondok pesantren. Namun, apakah keunikan sorogan hanya sebatas itu? Barangkali ada banyak strong point dari metode sorogan ini yang membuatnya tetap eksis menjadi program unggulan pondok pesantren khususnya di Nurul Ummah. 

Simbol Ketepatan, Kedisiplinan dan Kerajinan Santri

Sorogan menjadi salah satu metode pembelajaran kitab kuning yang intuitif. Mengapa terkesan kontradiktif? Hal itu karena adanya peran emosional santri dan pengampu. Logikanya, ilmu alat merupakan pedoman untuk mengetahui kaidah kebahasaan atau gramatika arab dengan nahwu shorof secara sistematis. Namun, melalui praktik sorogan, santri membiasakan diri untuk siap membaca kitab gundul tanpa harakat serta mengandalkan pemahaman nahwu dan sharaf mereka. Di samping itu, cara mereka mengkaji kitab adalah dengan berhadapan langsung di depan pengampu. Interaksi tersebut membangun ikatan yang kuat, sehingga secara tidak langsung santri menanamkan pemikiran mendalam tentang apa yang sudah mereka kaji bersama pengampu. Setelah mereka terbiasa, santri menjadi mandiri untuk mengetahui seluk beluk makna arab secara otomatis dan tepat. Ketepatan, kedisiplinan, serta kerajinan santri. Itulah yang membangun citra sorogan begitu unik daripada metode pengajaran lain.

Bentuk Mempertahankan Nilai Adab, Sanad dan Karakter Spiritual

Pembelajaran metode sorogan tidak hanya berbicara transfer data, informasi ataupun tes pemahaman semata. Jauh dari itu, sorogan menjaga nilai spiritualitas, berkah keilmuan, dan tradisi adab. Melalui sorogan, santri menciptakan ruang belajar reflektif untuk mengevaluasi secara kritis bagian yang masih menjadi kelemahan bacaan mereka. Santri membentuk sikap tawadhu atau kerendahan hati saat mengetahui adanya kesalahan baca atau ketika pengampu memberikan ilmu seputar konsep nahwu shorof untuk bekal bacaan kitabnya. Kegiatan sederhana inilah yang mewakilkan ketiga nilai tersebut. Dari santri yang berupaya belajar, dari pengampu yang berupaya mengajarkan, serta dari mereka, yakni para ulama yang mewariskan ilmu kitabnya membuat interaksi sorogan menjadi cara menjaga sanad keilmuan yang murni dan berlandaskan kitab kuning. Oleh karena itu, pengalaman interaksi antara santri dan pengampu menjadi ruang sakral yang tidak hanya mengajarkan ilmu alat, namun juga menanamkan nilai spiritual. 

Jawaban Atas Reformasi Pendidikan Modern yang Ekstrem

Arus modernisasi semakin kuat. Masyarakat tak bisa lepas dari perangkat digital bahkan untuk sekedar mencari tahu sebuah ilmu. Memang tidak ada salahnya manusia menuntut efisiensi dan kemudahan dalam kehidupan mereka. Yang perlu kita waspadai adalah bagaimana dampak dari perkembangan reformasi ekstrem tersebut tidak menghalangi jalan tradisi keilmuan yang sudah terjaga selama bertahun-tahun melalui perjuangan ulama terdahulu. 

Tradisi sorogan tidak jarang mengalami tekanan yang sama. Banyak orang memandang sorogan sebagai metode kuno, tidak relevan, serta sulit menerapkannya karena cukup menyita waktu. Orang-orang yang beranggapan demikian barangkali keliru dalam menilai esensi sejati tradisi sorogan. Mereka enggan menggali bagaimana pendidikan seharusnya menekankan kedalaman pemahaman (comprehension of the depth) santri. Padahal, praktik rutin ini mampu membentuk karakter keilmuan yang baik, bermoral, serta tertanam kuat dalam batin mereka. 

Komitmen atas tradisi inilah yang hendak dipertahankan pondok pesantren Nurul Ummah. Ia tegas menjawab bahwasanya keahlian membaca dan memahami kitab kuning membutuhkan proses yang tidak bisa digantikan algoritma digital maupun kecerdasan buatan. Cukuplah perangkat modern berperan sebagai alat bantu, bukan menjadi menu utama jalannya tradisi pendidikan pesantren yang dapat menghilangkan keberkahan keilmuan tanpa seorang ‘guru’. 

Pada akhirnya, metode sorogan di Pondok Pesantren Nurul Ummah tidak hanya bercerita tentang santri yang diajarkan ilmu alat oleh pengampu. Di balik permukaan itu, tersimpan pesan moral yang jauh bernilai dan menjadi ciri khas pesantren berbasis tradisi salaf. Sorogan adalah implementasi dari metode pembentukan karakter yang kini dicari oleh sistem pendidikan modern. Ia telah lama hadir dan membersamai perjalanan lintas waktu bersama Pondok Pesantren Nurul Ummah yang memiliki asas Muthala’ah. Dalam suasana riuh malamnya santri mengantri sorogan dengan memangku kitab, tersembunyi apa yang mungkin tak bisa kita lihat, sebuah benteng pertahanan kokoh yang menjaga dan merawat kemurnian tradisi keilmuan Islam, sekaligus energi pelita bagi generasi mendatang. 


Penulis : Muhammad Malik Nadzif

Gambar: dokumentasi PP Nurul Ummah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *