Sesi II Nurma Academic Writing: Doktor Azis Tekankan Efisiensi Bahasa dan Keberanian Menampilkan “Suara Penulis”

Dr. Azis Anwar Fachruddin memberikan materi Sesi II Nurma Academic Writing mengenai metodologi riset turats dan efisiensi bahasa.

YOGYAKARTA – Sesi II Seminar Nurma Academic Writing di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede menghadirkan visiting lecturer UGM sekaligus alumni Nurul Ummah, Azis Anwar Fachruddin, S.Hum., M.A., Ph.D. (Pak azis). Dipandu oleh moderator Aqilah Izzati, sesi bertajuk “Academic Writing for Risalah” ini membedah teknik penulisan karya ilmiah, efisiensi bahasa, hingga praktik langsung menguliti draf abstrak para santri.

Apresiasi Perkembangan Risalah Santri

Mengawali pemaparannya, Pak azis menyampaikan apresiasi tinggi kepada pengurus Madrasah Diniyah Nurul Ummah atas terselenggaranya seminar dan gagasan memublikasikan risalah santri dalam bentuk jurnal ilmiah. Beliau membandingkan dengan masa studinya pada tahun 2010 lalu, di mana karya risalah santri sebagian besar hanya menumpuk di lemari perpustakaan.

“Meskipun sekarang kelasnya lebih ramping dan jumlah santri tidak sebanyak dulu, alih-alih turun, kualitas risalahnya justru makin meningkat. Bahkan ada ide dipublikasikan sebagai jurnal. Ini seperti menyetarai jurnal-jurnal Ma’had Aly di pesantren-pesantren besar,” ungkap Pak azis.

Membedakan “Ilmiah” dan “Akademis”: Jangan Terjebak Jargon Melangit

Dalam aspek metodologi, Pak azis mengajak para santri membedakan antara istilah akademis dan ilmiah. Istilah akademis berorientasi pada afiliasi lembaga formal, sedangkan ilmiah bersifat universal dan dapat diproduksi oleh siapa saja termasuk para santri di pesantren.

Beliau mengingatkan agar para santri tidak terjebak pada obsesi menggunakan jargon bahasa Inggris atau sitasi mentereng hanya untuk memberi kesan seolah-olah tulisannya canggih. Pak azis sempat menyinggung fenomena skandal Alan Sokal di New York University sebagai kritik atas karya-karya ilmiah yang dipaksakan rumit padahal hampa substansi.

“Standar keilmiahan suatu karya bukan diukur dari banyaknya jargon akademis atau istilah bahasa Inggris yang melangit, melainkan dari klaim yang ditopang bukti akurat serta disusun dalam argumentasi yang runtut dan logis,” tegasnya.

Bedakan Istilah Teknis dan Istilah Umum Guna Efisiensi Bahasa

Pak azis juga membedah draf tulisan dan menunjukkan pentingnya efisiensi kata. Beliau menjelaskan bahwa istilah asing atau bahasa Inggris hanya tepat digunakan jika merupakan istilah teknis bidang ilmu (seperti tasawwur dan tasdiq dalam ilmu mantiq, qiyas dalam ushul fikih, atau evolusi dalam sains). Namun, untuk istilah umum, penggunaan bahasa Indonesia yang lugas dan efektif jauh lebih disarankan daripada memaksakan frasa seperti inheritance (yang lebih pas legacy atau warisan) atau obral kata berakhiran “sasi”.

Angkat Isu Riil dan Munculkan “Suara Sendiri” dalam Tesis

Daripada memaksakan teori-teori filsafat Barat yang rumit dan melangit, Pak azis mengadvokasi para santri untuk mengkaji persoalan-persoalan riil dan praktis di tengah masyarakat. Beliau mencontohkan berbagai topik menarik seputar riset turats, seperti kontekstualisasi hukum sedekah bagi keluarga yang terutang, fenomena childfree dalam tinjauan maqashid syariah, hingga fenomena etika media sosial.

Di akhir sesi, Pak azis membedah struktur abstrak yang efektif, yang memuat tiga rukun utama: latar belakang masalah, persoalan yang mau dijawab, dan jawaban/tesis penulis. Beliau mendorong santri untuk berani menampilkan standing position atau suara ilmiahnya sendiri (author’s voice), bukan sekadar merangkum pendapat tokoh lain.

“Tentukan tesis panjenengan sendiri secara tegas di akhir abstrak, apakah akad ini sah atau tidak, atau apakah syarat ini fasid atau tidak. Tampilkan suara sendiri yang bening seperti kristal,” pungkas Pak azis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *