“Sambat”, Teologis atau Diplomasi Iman? Seni Mengolah Duka Menjadi Berkah

Pernahkah Anda membuka linimasa media sosial dan mendapati dunia digital dipenuhi keluh kesah? Di era digital yang serba cepat ini, manusia modern tampaknya semakin rapuh secara mental. Ketika ditimpa kemalangan kecil mulai dari kondisi fisik yang menurun hingga urusan finansial yang seret, respons spontan kita hampir selalu berujung pada “sambat”. Tanpa sadar, kita kerap membiarkan keluhan kecil merusak cara pandang kita terhadap takdir.

Padahal, jika kita mau sedikit melambat dan merenung, agama memiliki cara pandang yang jauh lebih jernih dan elegan untuk membingkai setiap kesusahan. Islam tidak menuntut kita menjadi manusia yang mati rasa tanpa emosi, melainkan membimbing kita mengelola duka dengan nalar keimanan.

Kebijaksanaan inilah yang dikaji secara mendalam dalam Pengajian Rutin Jum’at Wage di Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta – diasuh langsung oleh KH. Ahmad Zabidi Marzuqi, Lc., yang rutin dihadiri oleh para alumni sekaligus menjadi kewajiban bagi para santri aktif.

Teologi Ujian: Detoksifikasi Dosa Lewat Cobaan

KH. Ahmad Zabidi Marzuqi, Lc. membuka kajian dengan membedah Hadits ke-43 (19/43) dalam Kitab Riyadhus Shalihin yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بعبْدِهِ خَيْراً عجَّلَ لَهُ الْعُقُوبةَ في الدُّنْيَا، وإِذَا أَرَادَ اللَّه بِعبدِهِ الشَّرَّ أمسَكَ عنْهُ بذَنْبِهِ حتَّى يُوافِيَ بهِ يَومَ الْقِيامةِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukuman (siksa) baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Allah menahan siksaan atas dosanya sampai Dia membalasnya penuh pada hari kiamat.”

Menggunakan gaya khas pesantren, KH. Ahmad Zabidi menerangkan makna mendalam di balik teks tersebut. “Nek Gusti Allah ngersake apik marang kawulane, siksane bakal disegerake ning dunya,” jelas beliau. Artinya, saat kita, anak, orang tua, atau simbah kita ditimpa kesedihan atau sakit, sebenarnya itu adalah detoksifikasi spiritual. Allah sedang mencuci dosa-dosa kita di dunia agar kita tidak perlu membawanya ke pengadilan akhirat.

Sebaliknya, kondisi yang paling menakutkan yang disebut istidraj adalah ketika seseorang hidup bergelimang kemaksiatan namun fisiknya selalu sehat walafiat dan hidupnya mulus tanpa cobaan sedikit pun. Allah sengaja menahan dosanya (amsaka ‘anhu) agar kelak seluruh dosa tersebut ditumpuk dan dibalas secara penuh pada hari kiamat.

Oleh karena itu, KH. Ahmad Zabidi menekankan pentingnya membangun cara pandang positif (husnuzan) kepada takdir Allah. Cobaan adalah sinyal cinta. Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, semakin besar pula cobaan yang diterimanya. Pembeda utamanya hanyalah satu “Barang siapa ridha, ia akan mendapat ridha Allah. Barang siapa menggerutu, ia hanya akan mendapatkan kemurkaan-Nya.

Diplomasi Iman Ummu Sulaim: Mengembalikan Barang Titipan

Teori ridha ini tidak dibiarkan mengawang sebagai konsep abstrak. KH. Ahmad Zabidi menghidupkannya melalui studi kasus historis yang sangat menyentuh pada Hadits ke-44 (20/44) Kitab Riyadhus Shalihin, yakni kisah ketegaran Ummu Sulaim (istri sahabat Abu Thalhah) saat putranya meninggal dunia. Ketika sang putra menghembuskan napas terakhir, Abu Thalhah sedang bepergian. Bayangkan kesedihan seorang ibu yang bayinya wafat di dekapannya. Namun, alih-alih histeris atau membagikan kedukaannya ke khalayak, Ummu Sulaim melarang keluarganya langsung mengabari suaminya. Beliau berpesan, “Jangan ada yang mengatakan kepada Abu Thalhah tentang anaknya sebelum aku sendiri yang mengabarinya”. Saat Abu Thalhah pulang dan bertanya “Bagaimana kondisi anakku?”, Ummu Sulaim menjawab dengan kiasan yang menentramkan:

هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ

Dia sekarang berada dalam kondisi yang paling tenang (damai) daripada yang sebelumnya.”

Mendengar jawaban itu, Abu Thalhah mengira anaknya sudah sembuh. Ummu Sulaim kemudian menyuguhkan makan malam terbaik, lalu berhias secantik mungkin untuk menyambut suaminya yang lelah. Keikhlasan batin yang kokoh membuat Ummu Sulaim mampu menepikan duka pribadinya demi menunaikan kewajiban sebagai istri, hingga mereka berkumpul malam itu.

Setelah suaminya tenang dan kenyang, Ummu Sulaim tidak langsung mengabarkan kematian sang anak dengan kalimat yang mengejutkan. Beliau menggunakan diplomasi iman lewat sebuah pertanyaan kiasan hukum pinjam-meminjam (‘ariyah):

“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan barang titipan kepada sebuah keluarga, lalu pemiliknya meminta barang tersebut kembali, apakah keluarga itu berhak menolaknya?”

Abu Thalhah dengan tegas menjawab, “Tentu saja tidak berhak menolak, karena barang itu milik sang pemilik.” Mendengar pengakuan objektif suaminya, barulah Ummu Sulaim menyampaikan takdir yang sesungguhnya dengan sangat lembut:

فاحتسِبْ ابْنَكَ

“Maka dari itu, harapkanlah pahala dari Allah atas kematian anakmu.”

Buah Manis dari Rahim Kesabaran

Meskipun Abu Thalhah sempat terkejut dan mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di pagi hari, Rasulullah saw. justru tersenyum melihat kebesaran jiwa pasangan ini. Beliau mendoakan keduanya: “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.

Doa Rasulullah saw. yang agung tersebut berbuah manis. Ummu Sulaim kembali hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Abdullah yang ditahnik langsung menggunakan kurma oleh Rasulullah saw. Keberkahan dari rahim kesabaran itu terus mengalir deras. Sahabat Anshar memberikan kesaksian sejarah bahwa kelak dari keturunan Abdullah bin Abu Thalhah ini lahir sembilan orang anak yang semuanya tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an (ahlul Qur’an) yang saleh.

Hadist tersebut memberikan satu hikmah praktis yakni “Sabar sejati bukanlah kepasrahan yang pasif dan penuh keluhan, melainkan sebuah kerja mental aktif untuk mengendalikan emosi dan menjaga keteguhan sikap di hadapan duka”. Saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, ingatlah kiasan Ummu Sulaim tentang barang titipan. Kehilangan tersebut hanyalah proses pengembalian barang kepada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT. Jika kita mampu menyikapinya dengan ridha dan keikhlasan yang elegan, Allah tidak hanya akan memberikan ketenangan batin, melainkan juga menggantinya dengan keberkahan yang terus mengalir deras hingga ke anak cucu kita kelak.

Semoga Bermanfaat.


Referensi:

  1. Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus Shalihin, Bab Sabar, Hadis No. 19/43 (Riwayat Tirmidzi) dan Hadis No. 20/44 (Muttafaq ‘Alaih).
  2. https://shamela.ws/book/12014/24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *