Ketika alarm ponsel sebagian orang baru berbunyi pada pukul lima pagi, denyut kehidupan di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede sudah dimulai sejak sebelum Subuh. Jamaah Subuh menjadi penanda awal hari, yang kemudian disambung dengan pengajian. Setelah itu, para santri mahasiswa mulai menyebar menjalani aktivitasnya masing-masing. Ada yang menghidupkan motor menuju kampus, ada yang bersiap berangkat kerja, dan ada pula yang menjalani agenda lain di luar pondok.
Menjelang sore, mereka akan kembali ke pondok. Selepas Maghrib dan Isya, ruang-ruang komunal kembali dipenuhi aktivitas pengajian malam. Namun, malam tidak otomatis menjadi waktu istirahat. Di balik kamar-kamar pondok, aktivitas sering kali masih berlanjut. Ada laptop yang menyala untuk mengejar tenggat tugas kuliah, pekerjaan yang perlu diselesaikan, rapat kepengurusan, diskusi, atau muthala’ah, membaca dan mengulang kembali pelajaran sebelum akhirnya beristirahat.
Bagi orang luar, ritme hidup santri mahasiswa di Nurul Ummah mungkin terlihat padat. Bagi yang menjalaninya, kepadatan itu perlahan menjadi bagian dari keseharian. Tahun demi tahun, mereka belajar menjahit kewajiban mengaji, tugas akademik, pekerjaan, dan organisasi menjadi satu nafas.
Sampai akhirnya, masa mukim di pondok selesai. Seorang santri harus melangkah keluar dari lingkungan pesantren dan berhadapan dengan masyarakat yang jauh lebih luas. Di situlah sebuah pertanyaan menjadi menarik: apa sebenarnya yang dibawa seorang santri dari pesantren ketika memasuki dunia profesional?
Ketika Pesantren dan Kampus Berjalan Bersamaan
Menjadi santri mahasiswa di Nurul Ummah bukan berarti harus memilih antara kehidupan pesantren dan kehidupan akademik. Kuliah tetap berjalan, tugas memiliki tenggat, pekerjaan memiliki tanggung jawab, dan aktivitas di luar pondok tetap harus dijalani.
Di sisi lain, pesantren menyediakan ruang pendidikan agama yang terstruktur melalui madrasah diniyah dan pengajian. Ada waktu-waktu yang menjadi komitmen bersama, seperti jamaah dan pengajian pagi maupun malam. Di luar waktu tersebut, santri memiliki ruang untuk mengatur kuliah, pekerjaan, organisasi, serta kebutuhan pribadinya.
Pola kehidupan seperti ini menuntut santri untuk belajar mengelola dirinya sendiri. Tugas kuliah tidak bisa terus ditunda, pekerjaan memiliki konsekuensi, sementara kewajiban pondok tetap harus dijalankan. Namun, proses pembentukan di pesantren tidak berhenti pada kemampuan menyusun jadwal.
Ada dua kebiasaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan pondok: jamaah dan muthalaah. Jamaah menghadirkan keteraturan dalam menjalani kewajiban bersama. Sementara mutholaah menjaga agar belajar tidak berhenti ketika pengajian selesai. Ada dorongan untuk membaca kembali, memahami lebih dalam, dan tidak cepat merasa cukup dengan apa yang telah didapatkan.
Dari sana, ruang belajar santri menjadi semakin luas. Dalam musyawarah, misalnya, tidak semua pendapat akan bertemu di titik yang sama. Ada pandangan yang perlu dijelaskan kembali, ada yang harus dipertimbangkan, dan ada pula yang akhirnya harus ditinggalkan. Santri belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, dan mengambil keputusan bersama.
Begitu pula ketika terlibat dalam kepanitiaan atau kepengurusan pondok. Sebuah acara tidak akan berjalan hanya karena konsepnya terlihat menarik di atas kertas. Ada pembagian tugas, komunikasi, persiapan, persoalan yang muncul di tengah kegiatan, hingga evaluasi setelahnya.
Berbagai kegiatan dan event di pondok juga membuka ruang bagi santri untuk berpikir kreatif. Sebuah gagasan perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang benar-benar dapat dilaksanakan, sering kali dengan sumber daya dan kondisi yang terbatas. Semua itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak selalu disebut sebagai mata pelajaran. Tidak selalu ada ujian di akhir prosesnya. Tetapi tetap merupakan pembelajaran.
Yang Tidak Selalu Tertulis di Ijazah
Dalam pendidikan formal, ijazah menjadi salah satu bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Namun, proses pendidikan tidak pernah seluruhnya dapat dirangkum dalam selembar dokumen.
Ada pengalaman duduk dalam musyawarah. Ada kebiasaan membaca kembali pelajaran melalui muthalaah. Ada pengalaman bekerja dalam kepanitiaan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan bersama. Ada pula pengalaman hidup bersama banyak orang dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Semua itu terbentuk melalui sesuatu yang sederhana: pengulangan.
Hari demi hari, santri menjalani rutinitas yang sama. Mengaji lagi, membaca lagi, rapat lagi, berhadapan dengan perbedaan pendapat, menyelesaikan tanggung jawab, lalu mengulanginya kembali pada hari berikutnya. Karena berlangsung terus-menerus, proses tersebut mungkin terasa biasa saja. Bahkan, santri sendiri belum tentu menyadari apa yang sedang terbentuk di dalam dirinya.
Nilainya sering kali baru terasa ketika ia berada di luar pondok. Seorang santri mahasiswa belajar bahwa sumber ilmu tidak harus datang dari satu ruang. Kampus memberikan kesempatan untuk mendalami bidang akademik yang dipilih. Pesantren memberikan ruang untuk memperdalam ilmu agama sekaligus menjalani kehidupan bersama yang menuntut keteraturan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi.
Menjalani keduanya memang tidak selalu mudah. Waktu harus diatur, prioritas harus ditentukan, dan ada saat-saat ketika tuntutan akademik maupun pondok datang bersamaan. Tetapi dari situlah muncul pelajaran lain: ilmu bukan hanya tentang apa yang dipelajari, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola dirinya agar dapat terus belajar.
Ketika Bekal Pesantren Dibawa ke Dunia Profesional
Pendidikan pada akhirnya akan berhadapan dengan kehidupan nyata. Apa yang dipelajari di ruang kelas, pengajian, organisasi, maupun kehidupan bersama akan menemukan bentuknya ketika seseorang memasuki lingkungan yang berbeda.
Salah satu gambaran dapat dilihat dari perjalanan seorang lulusan pesantren yang kemudian memasuki dunia pendidikan profesional. Dengan latar belakang pendidikan formal dari bidang yang bukan Pendidikan Agama Islam, ia mendaftarkan diri sebagai guru PAI di Kinderstation Primary School, yang terdaftar sebagai SD Cahaya Bangsa Utama. Dalam proses pendaftaran, syahadah atau ijazah Pondok Pesantren Nurul Ummah turut dilampirkan.
Latar belakang pendidikan pesantren tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi setelah tahap wawancara sehingga kandidat dapat melanjutkan ke tahap berikutnya. Namun, ijazah tentu bukan penentu tunggal. Kemampuan mengajar tetap harus dibuktikan melalui micro teaching atau praktik mengajar. Tahap tersebut menjadi bagian penting dalam proses seleksi hingga akhirnya kandidat tersebut dipercaya untuk mengajar PAI.
Di sini, ijazah pesantren bukanlah tiket otomatis menuju sebuah pekerjaan. Ia menjadi bagian dari latar belakang pendidikan yang kemudian bertemu dengan kompetensi dan proses seleksi. Menariknya, bekal tersebut kemudian dibawa ke lingkungan pendidikan yang cukup berbeda dari pesantren.
Kinderstation Primary School menggunakan International Primary Curriculum (IPC) dalam pembelajarannya. Lingkungan sekolah juga mempertemukan peserta didik dengan latar belakang agama yang beragam. Bahasa Inggris digunakan dalam proses pembelajaran, termasuk karena terdapat siswa dari luar negeri.
Bagi seorang guru PAI, lingkungan seperti ini menghadirkan ruang belajar yang baru. Materi PAI tetap disampaikan berdasarkan capaian pembelajaran yang ditetapkan pemerintah, tetapi pemahaman keagamaan yang diperoleh dari pendidikan pesantren dapat menjadi bekal dalam memahami materi dan mengembangkannya sesuai kebutuhan peserta didik.
Pengalaman mengajar madrasah diniyah di pondok juga memberikan pengalaman dalam menyiapkan pembelajaran. Sementara pengalaman berorganisasi dan hidup bersama di pesantren menjadi bagian dari proses beradaptasi dengan lingkungan kerja dan tuntutan profesional.
Pondok dan sekolah tentu memiliki suasana yang berbeda. Cara belajar, karakter peserta didik, tuntutan pekerjaan, sehingga bahasa yang digunakan dalam keseharian tidak selalu sama. Namun, bekal pendidikan tidak harus digunakan di tempat yang sama dengan tempat ia diperoleh. Justru ketika dibawa ke lingkungan yang berbeda, seseorang dapat melihat kembali bagian-bagian dari proses pendidikannya yang selama ini telah membentuk dirinya.
Apa yang Dibawa Seorang Santri?
Mungkin pertanyaan tentang masa depan seorang santri tidak harus selalu dijawab dengan nama profesi. Seorang santri bisa menjadi guru, akademisi, profesional, pengusaha, peneliti, atau menempuh bidang lain sesuai ilmu dan pilihannya. Yang dibawa dari pesantren bukanlah kepastian tentang akan menjadi apa seseorang kelak.
Ada kebiasaan belajar melalui muthalaah. Ada keteraturan yang tumbuh dari jamaah. Ada pengalaman menghadapi perbedaan melalui musyawarah. Ada pengalaman bekerja bersama melalui organisasi dan kepanitiaan. Ada pula nilai-nilai keagamaan yang kemudian dibawa ke ruang kehidupan masing-masing.
Semua itu tumbuh perlahan. Tidak semuanya langsung terlihat. Tidak semuanya dapat diukur dengan angka. Sebagian bahkan mungkin baru terasa bertahun-tahun setelah seseorang meninggalkan pondok dan hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, nilai sebuah ijazah pesantren tidak hanya terletak pada selembar dokumen yang dibawa setelah menyelesaikan pendidikan. Di belakangnya ada proses belajar yang panjang, kebiasaan yang diulang, pengalaman hidup bersama, dan ilmu yang terus berkembang.
Pesantren tidak harus menentukan kemana seorang santri akan melangkah. Ia memberikan ilmu, pengalaman, dan nilai yang dapat menjadi bekal ketika santri mulai menentukan jalannya sendiri. Sebab perjalanan seorang santri tidak benar-benar selesai ketika ia keluar dari pondok. Di luar pesantren lah, apa yang telah dipelajari mulai menemukan ruang untuk diamalkan.
Penulis: Umar Hasan (Pengurus Keamanan Asrama Mahasiswa PP Nurul Ummah)
Ilustrasi Gambar: Generated AI
