Yogyakarta – Ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Halaman Komplek B, Kamis (22/10/2026) pagi. Pembina apel, Agus H. Haqy Muhammad, Lc. menekankan santri untuk menjaga sanad keilmuan dan memegang adab kepada diri sendiri, kepada guru, dan kepada sesama santri.
Apel berlangsung pukul 07.00 WIB. Hamparan busana putih-hitam yang memenuhi empat penjuru Halaman Komplek B. Dari santri MI, MTs, MA, para mahasiswa Nurul Ummah, hingga jajaran dewan asatidz berdiri tegap dalam barisan yang tersusun rapi. Dipandu oleh MC dari kalangan santri Nurul Ummah, rangkaian apel Hari Santri Nasional dibuka dengan pembacaan Surah Al-fatihah. Dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Yalal Wathon, dan Mars Hari Santri Nasional. Seluruh santri dan dewan asatidz serempak melafalkan Ikrar Santri dengan khidmat sebelum agenda ini mau’idloh hasanah dan doa.
Keberkahan Sanad Keilmuan
Melanjutkan bahasan [. dalam acara “Nafahaat al-Hikmah” Bersama Lora Ismael Al-Kholily pada 20 Oktober lalu, Gus Haqy kembali mengangkat pentingnya sanad keilmuan. Beliau menegaskan bahwa sanad adalah izin dan restu seorang guru kepada muridnya untuk menerima dan mengamalkan ilmu. “Tanpa adanya izin atau doa dari guru, tentu ilmu-ilmu itu tidak akan bermanfaat,” dawuh beliau.
Meski belajar lewat video kini memang sangat memungkinkan, tetapi Gus Haqy menggarisbawahi bahwa bermuwajahah atau bertatap muka langsung dengan guru dapat memberi keberkahan dan menguatkan tekad murid. Beliau juga menegaskan bahwa keberadaan dan eksistensi Pondok Pesantren Nurul Ummah tidak lepas dari berkah sanad keilmuan yang diturunkan oleh para pendahulu.
“Pondok Pesantren Nurul Ummah yang telah dibangun lama oleh pengasuh tentu bisa eksis sampai hari ini. Tiada lain karena manhaj-manhaj beliau dan berkah sanad-sanad keilmuan yang diturunkan oleh para pendahulu kita,” tutur beliau.
Tiga Adab Utama Santri
Adab kepada diri sendiri : Gus Haqy mengingatkan bahwa ilmu tidak akan didapat oleh dua jenis orang, yang malu belajar dan yang sombong. Santri diminta membuang rasa bangga diri saat menuntut ilmu. Beliau mencontohkan pengalamannya mengaji kitab Syamail Muhammadiyah kepada gurunya hingga tiga kali, dimana setiap pengulangan menurutnya menghadirkan faedah yang berbeda.
Adab kepada guru : Gus Haqy menekankan pentingnya khidmat dan memuliakan guru. Beliau menceritakan kisah seorang murid Syekh Yusri di Al-Azhar, Mesir, yang istiqomah datang lebih awal dengan membawa tisu untuk mengelap meja gurunya. Berkat ketulusan khidmat tersebut, murid tersebut di kemudian hari berhasil meraih gelar Doktor.
Keteladanan serupa dicontohkan lewat kisah Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang rela masuk septic tank demi mengambil cincin istri gurunya, Kiai Kholil Bangkalan. Keikhlasan tanpa pamrih itu berbuah doa dari sang guru, yang membuka jalan keberkahan hingga Masyarakat dari berbagai penjuru berbondong-bondong menimba ilmu kepada Kiai Hasyim Asy’ari.
Adab kepada sesama santri : Santri diimbau memupuk kepedulian sosial di asrama, seperti menjenguk, menghibur, dan mendoakan yang sedang terbaring sakit. Gus Haqy menegaskan agar lingkungan pondok bersih dari ujaran kebencian, cemooh, maupun umpatan kotor, selaras dengan kepribadian Rasulullah SAW yang tidak pernah bertutur keji (wala fahisyan wala mutafahisyan).
“Sampeyan kalau ada santri yang sakit didoakan, dihibur. Jangan sampai ada kata-kata yang menyinggung… Kanjeng Nabi memiliki sifat wala fahisyan wala mutafahisyan. Tidak pernah berkata-kata kotor,” tutur beliau.
Gus Haqy merujuk sifat Rasulullah SAW yang tidak berkata kotor. Beliau mencontohkan pentingnya melatih lisan dengan ungkapan santun yang menjaga martabat teman, seperti mengganti kata “bodoh” dengan sebutan “belum pintar”, atau sapaan “hitam manis”
Ajakan Bersholawat
Pada bagian penutup, Gus Haqy mengajak santri membiasakan membaca sholawat setiap hari. Menurut beliau, semakin bersholawat, ilmu semakin mudah dipahami dan murid semakin dicintai gurunya. “Semakin sering membaca sholawat, ilmu akan semakin mudah masuk, mudah paham, semakin dicintai seorang guru…”, dawuh beliau.
Beliau juga mengutip dialog hikmah antara seorang guru dengan muridnya yang bertanya cara agar senantiasa berada di dalam hati sang guru. “Dulu ada santri bertanya: ‘Guru, bagaimana agar kami ada di hati engkau wahai guru?’ Gurunya menjawab: ‘Cukup letakkan kecintaanmu kepada Nabi Muhammad SAW di hatimu, maka kamu akan berada di hatiku,’” tutur beliau, menegaskan bahwa mahabbah kepada Rasulullah SAW merupakan jembatan terkuat untuk menyatukan batin guru dan murid.
