YOGYAKARTA – Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede menggelar Pertunjukan Wayang Beber “Taring Padi” pada Sabtu (24/10/2026) malam. Gelaran ini menjadi pembuka rangkaian “Semarak Hari Santri Nasional 2026” yang diinisiasi oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU DIY, sekaligus melengkapi rangkaian Hari Santri Nasional 2026 Pondok Pesantren Nurul Ummah.
Halaman parkir Pondok Pesantren Nurul Ummah malam itu terasa hangat sekaligus khidmat di bawah temaram langit terbuka. Para santri duduk memadati area dengan penuh antusias saat MC resmi membuka rangkaian acara tepat pukul 19.30 WIB. Suasana semakin terasa ketika seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Yalal Wathon.
Kebudayaan sebagai Napas Perjuangan Santri
Rangkaian acara berlanjut dengan sambutan dari pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummah yang disampaikan oleh Wakil Ketua, Nuzula Nailul Faiz. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa sebagai santri, kebudayaan juga merupakan bagian dari ruh kehidupan sehari-hari yang harus disadari dan dirawat. Mengaitkan momentum peringatan Hari Santri Nasional, beliau menyoroti seruan moral dalam mars Yalal Wathon, khususnya amanat lirik “Bangkitlah wahai bangsaku”.
Menurut beliau, spirit kebangkitan bangsa perlu ditempuh melalui jalan kebudayaan dan olah rasa kesenian, karena seni telah menjadi bagian dari napas tradisi keislaman Nusantara. Beliau berharap pentas Wayang Beber ini menjadi gerbang bagi para santriwan dan santriwati untuk lebih dekat mengenal akar kebudayaan luhur. Lebih jauh, beliau mendorong agar apa yang disaksikan malam itu menjadi pemantik lahirnya generasi seniman dan budayawan masa depan yang tetap memegang teguh identitas santri serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Panggung Ekspresi: Puisi Ekologi Santri Nurul Ummah
Kekhidmatan malam semakin berwarna ketika sorotan panggung mengarah kepada para Santri Nurul Ummah untuk menampilkan unjuk bakat pembacaan puisi bertema ekologi. Beberapa santri Nurul Ummah yang mengutarakan ekspresinya dalam bentuk puisi antara lain :
- Qoidatu Ma’rifatu Tsani, membawakan puisi yang berjudul “Aku, Penjaga Bumi”, menyuarakan ikhtiar merawat alam dari tindakan kecil seperti menanam pohon, menghemat air, dan menjaga kejernihan sungai demi generasi masa depan.
- Falenia Febriyanti, membawakan puisi yang berjudul “Merajut Kembali Harapan Nusantara”, sebuah rintihan puitis tentang tanah yang menua dan seruan menyalakan lentera hijau agar manusia hidup selaras dalam harmoni bersama alam.
- Lana Mazaya Az-Zahra, menyuguhkan puisi yang berjudul “Menanam Harapan”, mengisahkan lereng gersang yang kembali dipeluk oleh tangan-tangan kecil pembawa bibit pohon sebagai janji setia bagi kelestarian semesta.
- Dhimas Bagus Sadewo, membawakan puisi “Pahlawan Berseragam Abu-abu”, refleksi lugas seorang remaja madrasah yang mengajak kawan-kawannya mengurangi plastik dan tidak menjadikan bumi sebagai tempat pembuangan sampah raksasa.
- Khoirul Azzam Indratama, membawakan puisi “Kelana Abu”, melukiskan duka rimba asri yang habis terlahap api serta kerinduan jiwa pada hembusan sejuk hutan yang lestari.
- Ibrahim Raditya Fahrezi, membawakan puisi yang berjudul “Sajak Tanpa Makna”, bait-bait kritis mengenai murka semesta akibat kezaliman perusak alam dan komitmen bakti untuk terus menjaganya.
Penampilan penuh percaya diri keenam santri tersebut disambut tepuk tangan riuh hadirin. Keberanian para santri tampil percaya diri di hadapan teman-temannya dan hadirin patut mendapat apresiasi. Tanpa rasa canggung, mereka lantang menyuarakan kegelisahan zaman melalui kekuatan kata dan penghayatan rasa.
Gelaran Wayang Beber “Taring Padi”
Memasuki pukul 20.30 WiB, Muhammad Yusuf atau yang akrab disapa Cak Ucup Baik, seniman budaya dari komunitas seni ‘Taring Padi’ mulai membeberkan lembaran lukisan di hadapan santri. Malam itu, Cak Ucup membawakan lakon bertema Wayang Ekologi, menyajikan narasi kritis tentang bumi dan nasib rakyat melalui beberapa babak :
- Babak 1: Menampilkan lanskap agraris yang asri dengan padi menguning, mata air jernih, serta keharmonisan hidup antara petani dan kaum santri yang berlandaskan rasa syukur (qana’ah).
- Babak 2: Puncak konflik yang memperlihatkan figur raksasa (buto) dan satwa serakah sebagai simbol ketamakan modal. Adegan ini memotret realitas krisis ekologis yang akrab bagi warga Yogyakarta seperti sawah yang tertimbun beton, monopoli mata air, hingga tumpukan sampah plastik perkotaan.
- Babak 3: Menampilkan figur Punakawan bersama rakyat jelata yang berdialog menggunakan bahasa Jawa Mataraman yang jenaka. Di balik gelak tawa penonton, Cak Ucup menyentil kebiasaan manusia modern yang enggan memilah sampah dan terjebak dalam gaya hidup konsumtif sekali pakai.
- Babak 4: Cerita mencapai resolusi ketika para santri dan warga bergotong royong menanam pohon, membersihkan aliran sungai, serta mengolah sampah secara mandiri. Babak pamungkas ditutup dengan suluk tolak bala (ruwat jagad) memohon perlindungan Allah SWT agar bumi kembali lestari.
Pembuka Rangkaian Semarak Hari Santri 2026
Pementasan Wayang Beber “Taring Padi” malam itu menjadi pembuka dari rangkaian panjang agenda “Semarak Hari Santri Nasional 2026” yang digagas oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU DIY. Berbagai kegiatan kesenian dan penguatan kreativitas santri telah disiapkan untuk melanjutkan semarak ini di berbagai titik di Yogyakarta:
- 24 Oktober 2026: Gelaran Wayang Beber “Taring Padi” di Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta.
- 25 Oktober 2026: Lomba mewarnai tingkat TK/Playgroup serta pemutaran dan diskusi film “Receh” bersama Iwan RS di PP Wahid Hasyim.
- Oktober – November 2026: Safari Workshop Komik Strip bersama Sony P di sekolah-sekolah LP Ma’arif se-DIY.
- 31 Oktober 2026: Puncak Seni Santri di Gedung DPD RI DIY, menghadirkan lomba menggambar, workshop rajut, dan doodle art.
- 16 Januari 2027: Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-16 PWNU DIY di PP Al Miftah Nanggulan, Kulonprogo.
