Memahami Hakikat Dunia dan Kompas Kehidupan: Refleksi atas Muqaddimah Riyadhus Shalihin [Edisi Syarah Kitab #1]

Sering kali kita terjebak dalam hiruk-pikuk kehidupan duniawi hingga lupa ke mana arah perjalanan ini sebenarnya akan bermuara. Menyadari kecenderungan manusia yang mudah terlena, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah membuka karya fenomenalnya, Riyadhus Shalihin, bukan dengan pembahasan hukum yang rumit, melainkan dengan sebuah sentuhan spiritual yang mendalam. Beliau menyitir gubahan syair yang sangat indah untuk mengetuk kesadaran kita:

إِنَّ للهِ عِبَادًا فُطَنَا … طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا

نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا … أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا

جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا … صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا

“Sungguh, Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas; mereka ‘mentalak’ dunia karena takut akan fitnahnya. Mereka merenungi hakikat dunia, hingga tersadar bahwa dunia bukanlah rumah abadi bagi siapa pun yang bernyawa. Mereka pun menganggap dunia ini bagaikan lautan berombak besar, dan menjadikan amal saleh sebagai bahtera untuk melintasinya.”

Lewat bait di atas, Imam An-Nawawi menggambarkan dunia sebagai samudera luas yang penuh ombak dan ujian, bukan muara akhir tempat kita menetap. Kehidupan dunia hanyalah persinggahan singkat—sebuah ladang bercocok tanam yang hasilnya baru akan dipanen di akhirat kelak.

Kebenaran ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Az-Zariyat ayat 56–57, yang menegaskan orientasi utama penciptaan manusia:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦ مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ ۝٥٧

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Makan kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56–57)

Hakikat fana dan semu-nya perhiasan dunia ini juga dilukiskan dengan sangat puitis namun menghentak dalam Surah Yunus ayat 24. Allah mengibaratkan dunia seperti air hujan yang menyuburkan pelbagai tanaman. Ketika bumi tampak indah merona dan pemiliknya merasa telah menguasai hasil tamannya, tiba-tiba azab Allah datang di waktu malam atau siang, menjadikan segalanya musnah seperti tak pernah ada sebelumnya. Gambaran ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang mau berpikir.

Kompas Kehidupan bagi Seorang Mukallaf

Lantas, bagaimana seharusnya seorang mukallaf (orang yang telah dibebani kewajiban syariat) bersikap? Jawaban sederhananya: ikutilah jejak orang-orang yang berakal jernih dan berhati tajam. Salah satu jalan utamanya adalah dengan meneladani adab dan bimbingan Rasulullah SAW.

Menyadari bahwa perjalanan menuju Ridha Allah tidak bisa ditempuh seorang diri, An-Nawawi menyitir prinsip dasar dalam berinteraksi sosial dan berdakwah sebagaimana firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Sikap tolong-menolong ini diwujudkan pula dalam bentuk saling mengajak kepada kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seumpama pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

Maksud dan Metode Penulisan Kitab

Atas dasar semangat inilah Imam An-Nawawi menyusun Riyadhus Shalihin. Beliau berikhtiar merangkum hadis-hadis petunjuk menuju akhirat yang berfokus pada penataan akhlak, penyucian jiwa (tazkiyatun nufus), olah spiritual (riyadhatun nufus), serta dorongan untuk bersikap zuhud terhadap kemewahan duniawi.

Sebagian besar riwayat yang diambil berasal dari kitab-kitab hadis shahih yang terkemuka, meski para ulama penjelas (syarih) mencatat terdapat pula beberapa hadis bersatus hasan atau bahkan dha’if yang ditoleransi dalam kerangka fadhailul ‘amal (keutamaan amal).

Dalam proses penyusunannya, Imam An-Nawawi menerapkan sistematika yang sangat terstruktur dan memudahkan pembaca:

  1. Penerangan Berbasis Al-Qur’an: Setiap bab selalu diawali dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan sebagai landasan utama.
  2. Kejelasan Bahasa: Beliau secara eksplisit memberikan harakat atau penjelasan (syarah) pada kata-kata yang dianggap asing, sulit, atau berpotensi menimbulkan keraguan makna.

Penutup dan Doa yang Tulus

Di akhir mukadimahnya, Imam An-Nawawi menyandarkan seluruh ikhtiarnya hanya kepada Allah SWT. Beliau memanjatkan harapan agar karya ini mampu membimbing para pembacanya menuju pintu-pintu kebaikan dan membentengi mereka dari kebinasaan.

Secara khusus, beliau juga memohon kerelaan dari siapa saja yang memetik manfaat dari kitab ini untuk meluangkan doa kebaikan bagi beliau, kedua orang tua, guru-guru, kerabat, serta seluruh umat Islam. Mukadimah ini pun ditutup dengan untaian tawakal yang begitu menyentuh:

وَعَلَى اللهِ الكَرِيمِ اعْتِمَادِي، وَإِلَيْهِ تَفْوِيضِي وَاسْتِنَادِي، وَحَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَزِيزِ الحَكِيمِ.

“Hanya kepada Allah Yang Mahamulia aku bersandar, dan hanya kepada-Nya aku menyerahkan segala urusan serta berpegang teguh. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”


EDISI SYARAH KITAB #1: Artikel ini merupakan catatan dan intisari dari kitab Nuzhatul Muttaqin: Syarah Kitab Riyadhus Shalihin. 

Penulis: Muhammad Rikza Al Umami, S.Sos. (Pengurus PP Nurul Ummah Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *