Di tengah dinamika zaman yang terus berkembang, pesantren tidak hanya dituntut mencetak santri yang matang secara spiritual, tetapi juga melahirkan jajaran pengurus dengan kedalaman ilmu keagamaan yang mumpuni. Menyadari krusialnya peran pengurus dalam mengawal sistem pendidikan dan santri, Madrasah Diniyah (MD) Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta menghadirkan terobosan strategis melalui penataan kembali program keilmuannya. Salah satu wujud utamanya adalah Forum Kajian A’la (FKA), sebuah wadah pembelajaran mendalam yang dikhususkan bagi seluruh jajaran pengurus pesantren.
Forum Kajian A’la bukanlah program yang hadir tanpa akar. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum Madrasah Diniyah Nurul Ummah Yogyakarta yang kini resmi memasuki tahun keempat pelaksanaannya. Pada tahun-tahun awal, format pembelajarannya masih relatif sederhana, yakni sebatas metode sorogan konvensional, peserta membaca kitab di hadapan pengampu saja tanpa diskusi. Seiring berkembangnya kebutuhan, pengelola merombak struktur program ini agar lebih interaktif, komprehensif, dan berdampak nyata bagi pengayaan wawasan para pengurus.
Transformasi tersebut diwujudkan dengan mengombinasikan dua metode klasik pesantren—yaitu sorogan dan musyawarah—dengan pemanfaatan media digital modern, seperti Smart TV, laptop, dan tablet. Melalui perpaduan ini, peserta tidak lagi menjadi pendengar pasif, melainkan dituntut aktif mengkaji teks secara analitis. Kehadiran teknologi canggih ini pun semakin mempercepat serta mempermudah proses penyebaran ilmu. Sebagai bahan kajian utama, dipilih kitab Al-Muhadzdzab karya Syekh Abu Ishaq Asy-Syairazi. Kitab fikih mazhab Syafi’i yang terkenal dengan kedalaman dalil dan kerapian bahasanya ini menjadi instrumen ideal untuk menguji sekaligus mengasah ketajaman literasi keislaman para pengurus.
Digelar rutin setiap Jumat malam (malam Sabtu) pukul 22.00 hingga 24.00 WIB, FKA dijalankan melalui alur metodologis yang sistematis dan terukur. Sesi diawali dengan pembacaan maqro’ menggunakan makna pegon—tradisi pemaknaan kitab gundul untuk menjaga keotentikan pemahaman bahasa Arab klasik. Tahap ini langsung dilanjutkan dengan diskusi nahwu dan saraf untuk membedah struktur gramatika Arab secara mendalam, guna memastikan tidak ada kekeliruan sintaksis maupun morfologis dalam memahami teks turats.



Setelah pondasi kebahasaannya terverifikasi, alur berlanjut ke tahap penerjemahan dan diskusi hasil terjemahan. Pada sesi ini, para pengurus melatih kemampuan menyampaikan makna teks ke dalam bahasa Indonesia secara kontekstual dan komunikatif. Puncak rangkaian FKA ditutup dengan musyawarah konten—sebuah ruang dialektika yang hidup untuk membedah hukum-hukum fiqih dalam kitab Al-Muhadzdzab, sekaligus merefleksikannya dengan realitas dinamika keumatan dan tantangan pengelolaan santri saat ini.
Seluruh proses pengkajian yang komprehensif ini diampu langsung oleh Ustaz Muhammad Baihaqi, M.Ag. Beliau merupakan murid langsung dari Almaghfurlah KH. Asyhari Marzuqi yang mewarisi keteladanan nyata dalam ketekunan belajar, konsistensi, serta komitmen menjaga tradisi muthola’ah.
Pada akhirnya, muara utama dari Forum Kajian A’la adalah meningkatkan kapabilitas dan kapasitas intelektual seluruh pengurus PP Nurul Ummah Yogyakarta. Pengurus yang memiliki literasi keagamaan yang kuat akan lebih siap menghadapi tantangan zaman, merespons kebutuhan santri, dan mengelola organisasi pesantren secara profesional. Lewat konsistensi yang terjaga selama empat tahun, FKA bukan sekadar agenda mingguan biasa, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk merawat tradisi keilmuan pesantren sekaligus mencetak kader pengabdi yang matang secara intelektual dan spiritual.
