Mukjizat Nabi Muhammad SAW. berupa terbelahnya bulan ternyata bukan sesuatu yang statis. Ia bisa menjadi ruh utama sebuah karya literatur penting pada abad ke-13 di Asia Selatan, dan kini dikaji kembali untuk membongkar konstruksi kolonial dalam studi Islam dan Timur Tengah. Mari kita menelusurinya melalui artikel jurnal berjudul Shifting Perspectives and Methods in Researching the Moon-splitting Episodes karya Ines Weinrich (2026)1.
Salah satu mukjizat Nabi yang masyhur adalah terbelahnya bulan. Ini tercatat dalam QS. Al-Qamar ayat 1 yang dijelaskan dalam tafsir dan catatan ulama. Tapi ternyata mukjizat ini juga bisa menjadi ruh bagi catatan sejarah suatu daerah. Di Malabar (daerah yang seharusnya akrab di telinga santri, karena Fathul Mu’in, kitab fikih populer yang mereka kaji, dikarang oleh ulama yang berasal dari sini), kisah terbelahnya bulan menjadi bagian penting dari sebuah teks yang disebut Qissat Sakarwati Farmaz. Ini adalah semacam “legenda asal-usul” tentang bagaimana Islam masuk ke Kerajaan Kerala. Singkatnya, ceritanya begini: seorang raja Kerala menyaksikan bulan terbelah dari kejauhan, kemudian ia bertemu dengan seorang Muslim, memeluk Islam, dan pergi menemui Nabi Muhammad SAW. di Mekah.
Weinrich, penulis jurnal ini, menyimpulkan bahwa teks tersebut merupakan dokumen komposit yang kemungkinan ditulis oleh berbagai penulis dalam rentang waktu yang tidak sama. Kesimpulan ini didasarkan pada perbandingan dua naskah kuno Qissat Sakarwati Farmaz yang disimpan di British Library, London. Dari situ ia menemukan sesuatu yang sangat penting: ada dua versi berbeda dari adegan terbelahnya bulan. Dalam Naskah A, mukjizat yang diminta sangat spektakuler. Bulan diminta turun dari langit, masuk ke lengan baju kanan Nabi Muhammad SAW., keluar dari lengan baju kiri, lalu terbelah menjadi dua. Sementara dalam Naskah B, versinya lebih sederhana dan sesuai dengan kisah-kisah yang umum beredar dalam literatur “resmi” (seperti hadis dan biografi Nabi): bulan tetap di langit, dan Nabi cukup menunjuk dengan jarinya, lalu bulan pun terbelah. Menurut Weinrich, Naskah A terinspirasi dari tradisi lisan atau tulisan para pendongeng (al-qushash) di era peradaban Islam awal, tradisi yang dikritik oleh Ibnu Katsir. Sedangkan Naskah B mencerminkan pengaruh tradisi keilmuan yang lebih “resmi” dan mungkin ditulis oleh seseorang yang terpelajar. Perbedaan inilah yang mengantarkannya pada kesimpulan di atas.
Terlepas dari keotentikan periode sejarah daerah tersebut, penulisan teks berbahasa Arab ini menunjukkan bagaimana bahasa Arab memiliki akar dan tradisi kepenulisan yang kuat di tempat yang mungkin tidak kita duga: pesisir barat daya India, yang dikenal sebagai Malabar, di daerah Asia Selatan. Ini membuat saya berpikir bahwa bahasa Arab bisa menjadi salah satu bahasa internasional yang dikenal luas karena dua hal: hegemoni kekuasaan, di mana kekhalifahan memperluas wilayahnya, serta dakwah Islam, di mana bahasa ini identik dengan bahasa agama.
Dan memang, penelitian ini menunjukkan bahwa sejak tahun 1300-an sudah ada karya sastra Arab yang lahir di Asia Selatan. Ini penemuan penting, karena selama ini para sarjana Eropa memiliki pandangan bahwa setelah kejayaan Islam awal—khususnya setelah jatuhnya Baghdad pada tahun 1258—terjadi “kemunduran” dan tidak ada lagi karya berharga yang dihasilkan. Pandangan “kemunduran” ini, kata Weinrich, adalah sebuah konstruksi kolonial, dan kini para peneliti modern berusaha membongkar anggapan tersebut. Artikel ini menjadi bagian dari upaya mengisi kekosongan pengetahuan tentang periode sejarah yang terabaikan itu.
Yang menurut saya menarik selanjutnya adalah bagaimana melihat Qissat Sakarwati Farmaz dalam persimpangan dua perspektif: perspektif penulisnya sendiri dan perspektif akademik ilmiah, kaitannya dengan pengkategorian fiksi dan nonfiksi. Dari perspektif penulisnya, tentu teks ini dianggap benar-benar terjadi, sebagaimana gaya dan tujuan yang khas dari legenda asal-usul sebuah komunitas. Teks ini menceritakan secara rinci “sejarah” masuknya Islam ke Malabar, mulai dari mukjizat terbelahnya bulan yang disaksikan seorang raja, pertemuannya dengan Nabi Muhammad SAW., hingga pendirian sepuluh masjid pertama di sepanjang pantai dengan ukuran tanah wakaf yang spesifik. Naskah ini pun tidak memiliki penulis yang jelas (anonim), yang semakin menguatkan sifatnya sebagai narasi kolektif, bukan karya individu.
Sedangkan dari perspektif akademik, naskah ini memuat unsur keduanya sekaligus, sehingga tidak bisa dikotakkan secara kaku ke dalam satu jenis, fiksi atau nonfiksi. Ia tidak bisa dikatakan nonfiksi karena tidak semua klaimnya terverifikasi secara ilmiah, tapi juga tidak sepenuhnya fiksi, karena teks ini merefleksikan realitas sosial dan keagamaan pada masa ia ditulis. Teks ini memberi kita informasi tentang bagaimana komunitas Muslim di Malabar pada abad-abad lalu memandang diri mereka sendiri, bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain, dan bagaimana mereka membangun narasi identitas mereka. Dengan begitu, teks ini juga menjadi artefak budaya yang kaya dan memiliki nilai dokumenter. Beberapa bagiannya, seperti daftar nama masjid, lokasi, dan tanah wakaf, memiliki nilai dokumenter penting dan dapat dibandingkan dengan sumber lain, bahkan diteliti langsung di lapangan. Ini menunjukkan bahwa narasi legendarisnya dibungkus di sekitar informasi yang mungkin memiliki dasar kenyataan.
Semua ini menunjukkan betapa kayanya percampuran budaya dan tradisi keilmuan yang terjadi antara dunia Arab dan Asia Selatan, yang telah berlangsung selama berabad-abad. Nabi Muhammad SAW. dengan mukjizat yang dibawanya, dalam hal ini Al-Qur’an dan terbelahnya bulan, terus dinamis menelusuri ruang dan waktu, menjumpai kita di era modern ini dengan warisan kekayaan literatur di berbagai daerah. Terbelahnya bulan yang terjadi di langit Malabar itu juga menunjukkan bagaimana Islam berinteraksi dengan tradisi dan persepsi masyarakat lokal dalam melihat dirinya sendiri.
Tulisan ini adalah bagian dari kolom khusus “Celebrating the Prophet” oleh Nuzula Nailul Faiz, yang menelusuri legasi Nabi Muhammad SAW. di era sekarang melalui perspektif akademisi lintas disiplin dalam jurnal-jurnal internasional, tayang di nurulummah.com menjelang puncak perayaan Maulid Nabi 1448 H.
Sumber gambar : Canva Template
- Weinrich, I. (2026). Shifting Perspectives and Methods in Researching the Moon-splitting Episodes. Higher Education for the Future, 23476311261454446. https://doi.org/10.1177/23476311261454446 ↩︎
