YOGYAKARTA – Rangkaian Seminar Nurma Academic Writing di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede ditutup dengan pembahasan materi Sesi III: Gen AI for Research. Dipandu oleh moderator Ahmad Syarifudin, Koordinator Kurikulum MDNU, Nuzula Nailul Faiz, S.Sos. (Pak Faiz), membedah peta pemanfaatan kecerdasan buatan (Generative AI) secara etis, bahaya sitasi fiktif, hingga batasan penggunaan AI dalam penyusunan risalah santri.
Sikap Moderat: “Bosnya Tetap Manusia”
Mengawali pemaparannya, Pak Faiz menjelaskan alasan strategis mengapa materi kecerdasan buatan baru disajikan pada sesi sore hari setelah pembekalan metodologi dan teknik penulisan. Langkah ini diambil agar para santri dilatih terlebih dahulu untuk mampu menulis secara alami dan benar, sehingga karakter vokal ilmiah (your voice) milik santri tidak hilang. Tulisan yang murni dihasilkan oleh mesin tanpa olahan manusia cenderung kaku, kering, dan tidak disukai oleh pembaca ilmiah.
Pak Faiz menegaskan bahwa sikap pesantren terhadap kemajuan teknologi adalah sikap moderat, tidak radikal menolak AI secara total, tetapi juga tidak terdependensi secara buta.
“Sikap kita moderat. Kita tidak tabu terhadap AI, tetapi menggunakannya dengan bijak dan tahu batasannya. Kedudukan AI adalah sebagai asisten pintar yang membantu kerja kita, sementara bos utamanya tetaplah diri kita sendiri,” ujarnya.
Dalam peta teknologi riset, Pak Faiz membagi AI ke dalam tiga kategori: Assistive (alat bantu seperti Grammarly), Generative (pembuat konten seperti ChatGPT, Claude, Gemini, DeepSeek, Perplexity), dan Prohibitive (pendeteksi keaslian seperti Turnitin)
Ancaman “Sitasi Halu”
Pak Faiz mengingatkan santri untuk ekstra waspada terhadap bahaya fabrikasi data dan “sitasi fiktif/halu” dari model kecerdasan buatan. Riset menunjukkan bahwa AI generasi awal dapat menghasilkan hingga 55% rujukan fiktif, sementara generasi terbaru masih menyisakan potensi penyimpangan dan kesalahan pembelokan kutipan sekitar 18-43%.
“Setiap rujukan yang disarankan oleh AI harus dianggap belum terbukti ada. Jangan langsung disetorkan kepada pembimbing sebelum diklarifikasi dan diverifikasi ke sumber primernya,” ujarnya.
Batasan Mana yang Boleh dan Mana yang Dilarang
Untuk menjaga integritas akademik risalah di PP Nurul Ummah, Pak Faiz merinci batasan etika penggunaan AI bagi para santri:
- Yang Diperbolehkan (dengan verifikasi penuh):
- Membantu pemetaan ide (brainstorming) dan penyusunan kerangka tulisan (outline).
- Menggunakan alat bantu literatur digital (seperti NotebookLM, Connected Papers, Consensus, atau Semantic Scholar) untuk memetakan peta diskursus.
- Pemeriksaan ejaan, tata bahasa, dan bantuan penerjemahan naskah ke dalam bahasa Arab. Khusus penerjemahan bahasa Arab, santri wajib melakukan verifikasi ulang terhadap kaidah nahwu-sharaf serta ketepatan istilah teknis turats (seperti istilah tariqah atau tasawuf).
- Yang Dilarang Keras:
- Menulis keseluruhan atau sebagian besar naskah menggunakan AI.
- Mengakui luaran murni AI sebagai hasil pemikiran pribadi (generative copy-paste).
- Memalsukan data, membuat kutipan palsu, atau menyembunyikan sisa perintah (prompt leak) pada naskah.
Sebagai bentuk transparansi akademik, naskah risalah yang memanfaatkan bantuan AI wajib mencantumkan kalimat pengakuan (disclosure statement) di bagian catatan teknis.
3 Pesan Utama untuk Santri
Di akhir sesi, Pak Faiz menyampaikan tiga pesan kunci (takeaways) yang harus dipegang oleh seluruh santri kelas 2 Ulya:
- Kendali di Tangan Manusia: AI adalah alat bantu dan asisten riset, bukan penulis utama; tanggung jawab substansi naskah sepenuhnya berada pada santri.
- Verifikasi dan Transparansi: Setiap rujukan wajib diperiksa keberadaannya dan setiap penggunaan alat AI harus diungkapkan secara jujur.
- Integritas adalah Portofolio: Kejujuran akademik merupakan investasi reputasi jangka panjang bagi rekam jejak keilmuan santri.
Sesi III ini resmi menutup seluruh rangkaian Seminar Nurma Academic Writing 2026, membekali para santri kelas 2 Ulya dengan pemahaman metodologi yang kokoh, penguasaan tradisi turats, serta kecakapan memanfaatkan teknologi secara etis. Di akhir acara, Pak Faiz memberikan dorongan semangat terkait target Seminar Proposal (Sempro) yang dijadwalkan pada bulan depan, diikuti dengan pendaftaran bimbingan intensif dan penutupan foto bersama dengan yel-yel penuh semangat: “Risalah 2026, Saya Akan Lawan!”
