Menyemai berarti menabur benih agar kelak tumbuh; “akar keilmuan” adalah fondasi ilmu dan kedisiplinan pesantren. Kreativitas tidak tumbuh sembarangan, ia lahir dan berkembang kokoh di atas fondasi ilmu yang benar.
Mondok itu memenjarakan kreativitas. Begitu kata orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru bersabda sebaliknya: mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Selama bertahun-tahun menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta, prinsip itulah yang membentuk cara pandang saya terhadap kreativitas: ilmu dan karya bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu akar yang sama.
Jadwal mengaji yang padat, aturan yang ketat, dan rutinitas yang tak pernah longgar, semua itu dianggap penghalang bagi santri yang ingin mengembangkan bakat di luar ilmu agama, apalagi bidang-bidang kontemporer seperti desain, videografi, atau kecerdasan buatan. Pengalaman saya membuktikan sebaliknya. Di tengah mengaji ba’da Maghrib hingga pukul 22.00 dan ngaji bandongan ba’da Subuh, justru tumbuh keyakinan bahwa adab dan ilmu yang ditanamkan pesantren adalah pondasi paling kokoh bagi lahirnya karya yang bermanfaat.
Ngaji, Jamaah, lan Mutholaah. Tiga kata sederhana yang menjadi ruh Pondok Pesantren Nurul Ummah, dan menjadi landasan bagi setiap langkah dan karya yang lahir setelahnya.
Ngaji: Menjaga Ilmu Sebagai Sumber Segala Karya
Ngaji bukan sekadar membaca kitab. Ia adalah proses penyerapan ilmu yang disertai adab dan keberkahan dari sanad keilmuan yang bersambung. Kebiasaan ngaji secara istiqomah menanamkan satu keyakinan: karya yang baik harus lahir dari ilmu yang benar, bukan sekadar keterampilan teknis. Prinsip inilah yang saya bawa ketika mendalami dunia kreatif dan teknologi, termasuk saat menempuh sertifikasi Google AI, bahwa mempelajari sesuatu yang baru harus dilandasi kesungguhan dan adab, sebagaimana adab seorang santri kepada ilmunya.
Jamaah: Kekuatan Karya yang Lahir dari Kebersamaan
Tidak ada karya besar yang lahir sendirian. Islam menekankan pentingnya jamaah, sebab kekuatan yang lahir dari kebersamaan jauh lebih besar dari usaha seorang diri. Nilai ini tertanam kuat dalam keseharian santri Nurul Ummah, mulai dari shalat berjamaah hingga kerja sama dalam menuntaskan program kepanitiaan dan event pondok. Semangat jamaah inilah yang membentuk cara saya bekerja di dunia kreatif, sebuah bidang yang tampak individual namun selalu membutuhkan kolaborasi, masukan, dan koreksi agar karya yang dihasilkan benar-benar bermanfaat.
Mutholaah: Kesungguhan Menelaah Menuju Kesempurnaan Karya
Tidak ada karya baik yang lahir dari proses instan. Mutholaah, kebiasaan menelaah dan mengulang pelajaran secara mandiri sebelum benar-benar memahaminya, mengajarkan kesabaran untuk meninjau ulang, memperbaiki, dan menyempurnakan sebelum sebuah karya layak dipublikasikan. Kebiasaan inilah yang menjadi bekal utama saya dalam menekuni profesi sebagai seorang Creative Technologist hingga hari ini.
“Moco lan mutholaah kuwi kudu terus ojo nganti leren.” — Al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuqi, dikutip dari buku Nasehat Sang Kyai (Nurma Media, 2017). Pesan sederhana yang bermakna dalam: membaca dan menelaah harus terus berjalan, tidak boleh berhenti. Konteks pesan ini dapat diterapkan ke dalam hal apa pun, bukan semata-mata dalam mengaji kitab kuning.
Kebiasaan mutholaah itulah yang terus saya jaga, dan buahnya perlahan terlihat: penerima beasiswa Coding Camp 2025 yang diselenggarakan DBS Foundation dalam program Road to Future Workforce, serta CREATech Future Talents 2026 hasil kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif dengan Google Career Certificates pada jalur Artificial Intelligence, serta meraih TOP #19 pada The Future of Tech Dicoding Indonesia. Semua itu bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan buah dari kebiasaan ngaji, jamaah, dan mutholaah yang ditanamkan sejak saya menjadi santri.
Nurul Ummah: Ladang Ilmu yang Melahirkan Karya Bermanfaat
Rekam jejak Pondok Pesantren Nurul Ummah membuktikan bahwa kedisiplinan dan keilmuan pesantren mampu melahirkan alumni berprestasi di berbagai bidang: Dr. Ahmad Bahiej yang kini menjabat Kepala Kanwil Kemenag DIY, Prof. Dr. Abdurrahman Kasdi sebagai Rektor UIN Sunan Kudus, hingga Azis Anwar Fachruddin, Ph.D. yang berkarir sebagai peneliti di Arizona State University, Amerika Serikat. Nama-nama ini adalah saksi bahwa fondasi keilmuan yang kokoh mengantarkan santri ke berbagai jalur kehidupan, termasuk jalur yang jarang dibayangkan: dunia kreatif dan teknologi.
Bagi orang tua dan calon santri yang khawatir mondok akan menghambat cita-cita anak, kesaksian ini adalah jawabannya. Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta, memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan keterbukaan terhadap perkembangan zaman, hadir sebagai ladang yang menumbuhkan santri secara utuh: kokoh dalam keilmuan agama, unggul secara akademik, dan tetap terbuka mengembangkan potensi diri sesuai fitrah masing-masing. Bagi siapa pun yang ingin menitipkan putra-putrinya tumbuh dengan akar yang kuat, Nurul Ummah membuka pintu selebar-lebarnya untuk menjadi rumah kedua dalam menuntut ilmu.
Penutup: Akar yang Kokoh untuk Cabang yang Menjulang
Saya tidak menjadi seperti sekarang meski mondok di Nurul Ummah. Saya menjadi seperti sekarang justru karena mondok di Nurul Ummah. Ngaji yang menjaga kemurnian ilmu, jamaah yang menumbuhkan kekuatan kolektif, dan mutholaah yang membentuk kesungguhan dalam berkarya, ketiganya adalah akar yang menopang setiap karya yang saya hasilkan hingga hari ini. Pesantren bukan penghalang bagi kreativitas. Ia adalah ladang subur tempat kreativitas tumbuh dengan akar yang kokoh, hingga kelak menjulang membawa manfaat bagi umat.
Penulis: Ardi Ulinnuha (Alumni PP Nurul Ummah Yogyakarta)
