Di sebuah sudut komplek pesantren atau sekolah berbasis keagamaan, pemandangan ini tentu tidak asing: seorang pelajar tampak begitu cekatan memegang sapu, mengangkat barang, atau mengurus logistik asrama. Namun, ketika bel majelis ta’lim berbunyi dan kajian dimulai, ia justru tidak tampak di antara barisan pembelajar. Ketika ditanya “tidak hadir?”, jawaban yang meluncur begitu ringan: “Sedang ada tugas khidmah.”
Di titik inilah sebuah paradoks muncul. Bagaimana mungkin seseorang berniat menumpahkan keringat melalui khidmah demi mengejar keberkahan ilmu, tetapi di saat yang sama kegiatan khidmah tersebut justru membuatnya melalaikan aktivitas utama dalam meraih ilmu itu sendiri?
Fenomena ini bukanlah hal asing. Tanpa kita sadari, sebagian dari kita kerap menjadikan khidmah, pengabdian yang mulia itu, sebagai “selimut” indah untuk membungkus rasa malas belajar.
Akar Penghormatan pada Khidmah
Tentu, budaya khidmah tidak lahir dari ruang hampa. Tradisi pesantren memegang teguh maqalah populer: al-’ilmu bi al-ta’allum, wa al-barakatu bi al-khidmah (ilmu diperoleh dengan belajar, dan keberkahannya diperoleh dengan berkhidmah). Penghormatan ini diperkuat oleh narasi populer yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA: “Aku adalah hamba bagi siapa saja yang mengajariku walau hanya satu huruf.”
Teladan khidmah juga bertebaran dalam literatur klasik hingga sejarah Nusantara. Dalam kitab Marāqī al-ʿUbūdiyyah ‘ala matni bidāyah al-hidāyah, Syaikh Nawawi al-Bantani meriwayatkan kisah ketundukan Syaikh Al-Ghazali yang diminta menyapu lantai rumah gurunya (syaikh al-‘ātiqi) tanpa menggunakan alat, melainkan dengan tangannya sendiri. Di Nusantara, semangat khidmah yang luar biasa juga tergambar dari kisah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari saat mengambil cincin milik guru beliau, Syaikhona Kholil Bangkalan, yang jatuh ke dalam saluran pembuangan.
Kisah-kisah monumental ini diwariskan turun-temurun untuk mengajarkan satu hal mendasar: kerendahan hati dan kepatuhan (sami’na wa atho’na). Namun, masalah muncul ketika spirit dalam sejarah ini dipahami secara parsial oleh generasi belakangan.
Kekeliruan Memosisikan Khidmah
Tanpa kita sadari, kerap kali muncul godaan dalam diri untuk menganggap khidmah sebagai jalan pintas meraih ilmu tanpa perlu bersusah payah melewati jerih payah belajar. Pemahaman populer semacam ini rentan kita pelintir, baik secara sadar maupun tidak, hanya untuk membenarkan ketidakseriusan kita dalam menuntut ilmu.
Di sinilah letak kekeliruan mendasar dalam cara berpikir kita. Khidmah tidak pernah dirancang untuk menggantikan posisi ta’allum (belajar).
Logikanya sederhana: khidmah bertugas untuk menambah kebermanfaatan dan keberkahan ilmu, bukan untuk menggantikan proses belajar (ta’allum) sebagai jalan utama meraih ilmu. Bayangkan jika kita begitu bersemangat mengasah pisau, padahal tangan kita sendiri tidak memegang sebilah pisau pun. Apa yang sebenarnya sedang kita asah? Bagaimana mungkin kita mengharapkan keberkahan atas ilmu yang bahkan belum pernah kita pelajari?
Jika kita menengok kembali kisah para ulama terdahulu, khidmah yang mereka lakukan selalu diiringi dengan rasa haus akan ilmu. Ketika porsi belajar mereka berkurang karena khidmah atau penugasan sang guru, gejolak api semangat tholabul ‘ilmi mereka tak sedikit pun berkurang. Di sela-sela waktu khidmah, mereka tetap mencuri kesempatan untuk belajar (ta’allum) dan mengulas kembali (muthala’ah). Kondisi ini sungguh menjadi tamparan keras bagi kita, yang kerap kali merasa lega dan bangga ketika jadwal khidmah berbenturan dengan jam ngaji. Ironisnya lagi, ketika niat sudah ternoda, kita justru secara sengaja memanfaatkan ladang khidmah sebagai celah “legal” untuk melarikan diri dari majelis ilmu. Na’ūzubillāh…
Mengembalikan Khidmah pada Esensinya
Masalah utama artikel ini sama sekali bukan pada benar-salah atau baik-buruknya ajaran khidmah. Khidmah tetaplah tradisi penyeimbang jiwa yang mulia untuk mengikis kesombongan intelektual. Masalahnya terletak pada ketika khidmah disalahgunakan sebagai tempat bersembunyi dari kewajiban tholabul ‘ilmi.
Tradisi yang sangat baik pun akan mengalami pergeseran makna ketika dipraktikkan tanpa proporsi. Thalabul ‘ilmi adalah kewajiban pokok (asāsiyāh), sedangkan khidmah adalah penyempurna (mukammilah). Keduanya tidak boleh saling meniadakan.
Sebelum kita kembali melangkahkan kaki untuk berkhidmah, ada baiknya kita jujur bermuhasabah di dalam hati, apakah yang sedang kita lakukan ini benar-benar sebuah pengabdian yang tulus, ataukah kita hanya sedang membalut rasa malas belajar dengan selimut khidmah?
Penulis: Akhmad Sahal
Ilustrasi Gambar: Generate AI
Referensi
Al-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. (t.t.). Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum (Fasl: Fī Ta‘ẓīm al-‘Ilm wa Ahlih). Surabaya: Al-Hidayah.
Al-Bantanī, Muḥammad Nawawī. (t.t.). Marāqī al-‘Ubūdiyyah ‘alā Matn Bidāyat al-Hidāyah. Semarang: Karya Toha Putra, hlm. 85–86.
Liputan6.com. (2024, 21 Agustus). Kisah KH Hasyim Asy’ari Cari Cincin Mbah Kholil Bangkalan di Septic Tank. Diakses dari https://www.liputan6.com/islami/read/5692370/kisah-kh-hasyim-asyari-cari-cincin-mbah-kholil-bangkalan-di-septic-tank
Pondok Pesantren Sidogiri [@sidogiri]. (2019, 9 Juli). Berkata Syekh Dr. Muhammad bin Ismail Zain: “العلم بالتعلم والبركة بالخدمة والمنفعة بالطاعة” (Ilmu diperoleh dengan mengaji/belajar, barokah diperoleh dengan khidmah, dan manfaat diperoleh dengan ketaatan) [Status Update]. Twitter/X. https://x.com/sidogiri
