Menjadi mahasiswa sekaligus santri merupakan pilihan yang banyak diminati generasi muda. Kendati demikian, menjalani dua peran ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Keseharian santri-mahasiswa diisi dengan jadwal yang padat, mulai dari menghadiri perkuliahan dan menyelesaikan tugas akademis, bersimpuh mengaji serta setoran hafalan di pondok, hingga aktif mengasah diri di organisasi. Namun, padatnya rutinitas tersebut bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi.
Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta telah membuktikan bahwa keterbatasan waktu justru melahirkan deretan alumni yang sukses di kancah nasional maupun internasional. Pandangan bahwa bermukim di pesantren dapat menghambat studi atau menurunkan produktivitas kini tidak lagi relevan. Di Nurul Ummah, ritme harian yang terstruktur, mulai dari shalat berjamaah, tradisi mengaji, hingga lingkungan sosial yang saling mendukung, justru membentuk kedisiplinan yang menjadi modal utama santri untuk berprestasi di pesantren maupun di kampus.
Bukti keberhasilan tersebut terlihat jelas dari rekam jejak para alumninya. Beberapa di antaranya adalah Dr. Ahmad Bahiej (Kepala Kanwil Kemenag DIY), Prof. Dr. Abdurrohman Kasdi (Rektor UIN Sunan Kudus), Prof. Sulkhan Chakim (Wakil Rektor II UIN SAIZU), dan Prof. Dr. Sigit Purnama (Dekan FTIK UIN Sunan Kalijaga). Selain itu, terdapat pula para guru besar, wakil dekan, puluhan doktor, peneliti dunia seperti Azis Anwar Fachruddin, Ph.D. (Arizona State University, AS), hingga para penerima beasiswa LPDP dan BIB Kemenag.
Menjalani perkuliahan, bermukim di pesantren, dan aktif berorganisasi dapat berjalan selaras. Kuncinya tidak terletak pada seberapa banyak waktu yang dimiliki, melainkan pada kemampuan mengelolanya dengan baik. Berikut adalah beberapa tips praktis yang dapat diterapkan:
Menentukan Prioritas
Manajemen waktu yang baik dimulai dengan memetakan kegiatan berdasarkan prioritas. Kesibukan yang padat menuntut kemampuan untuk membedakan hal yang penting dan mendesak. Dengan demikian, setiap aktivitas, baik yang bisa dikerjakan bersamaan maupun yang harus diselesaikan satu per satu, tidak menjadi beban yang berlebihan.
Sebagai mahasiswa sekaligus santri, penting untuk mendahulukan kewajiban thalabul ilmi seperti kuliah dan mengaji. Sebelum mengambil tanggung jawab baru, pastikan hal tersebut tidak mengganggu kewajiban utama. Sementara itu, kegiatan tambahan seperti kepanitiaan, diskusi lepas, atau rekreasi dapat memanfaatkan waktu luang yang ada.
Di Pondok Pesantren Nurul Ummah, kegiatan menimba ilmu agama menjadi rutinitas harian, seperti mengaji setelah Maghrib hingga pukul 22.00 dan ngaji bandongan setelah Subuh. Di sisi lain, jeda di antara jadwal kuliah dapat dimanfaatkan secara produktif untuk berorganisasi, mengasah keahlian public speaking, atau menyelesaikan tugas kuliah agar tidak menumpuk.
Menghindari Kebiasaan Menunda
Saat tugas dosen menumpuk atau peluang kompetisi bertebaran di media sosial, kerap muncul dorongan untuk menunda pekerjaan. Kebiasaan menunggu waktu yang sempurna hanya akan membuang kesempatan, karena waktu ideal itu diciptakan melalui tindakan nyata.
Scott Raymond Adams pernah menyatakan:
“What if laziness is nothing but a habit of thinking about the effort instead of thinking about the outcome?”
Kemalasan sering kali bukan disebabkan oleh ketidakmampuan, melainkan karena terlalu fokus pada besarnya usaha yang harus dikeluarkan dibanding hasil yang akan diraih.
Menghilangkan kebiasaan menunda membawa dampak positif yang besar. Proses akademik seperti skripsi dapat diselesaikan tepat waktu hingga meraih predikat cumlaude. Pengalaman berorganisasi dan keberanian menghadapi kegagalan dalam berbagai seleksi juga akan membuahkan hasil manis pada masa depan.
Memilih Kegiatan yang Tidak Melanggar Aturan Pesantren
Di kampus, mahasiswa baru akan dihadapkan pada banyak pilihan Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Pilihlah organisasi yang dapat mengasah keahlian serta memperluas jaringan akademik, namun tetap ramah terhadap jadwal dan aturan jam malam pesantren.
Jika ada kegiatan atau rapat organisasi di malam hari, solusinya bukan dengan meninggalkan kewajiban di pesantren, melainkan berkoordinasi dengan baik, misalnya dengan mengikuti rapat secara daring atau meminta perwakilan dari anggota tim lain. Keterlibatan dalam organisasi akademik maupun kemasyarakatan sangat berguna untuk memperkaya Curriculum Vitae (CV) dan persiapan dunia kerja, selama tidak mengabaikan tugas utama sebagai santri.
Kedisiplinan Mengalahkan Kepintaran
Kepintaran saja tidak cukup tanpa dibarengi kebiasaan belajar yang konsisten. Penerapan teknik Pomodoro saat mempelajari materi kuliah serta pembiasaan muthola’ah kitab bersama rekan santri akan membentuk mental pembelajar yang tangguh. Kedisiplinan dan kesungguhan yang dijaga secara terus-menerus mampu melampaui bakat alami yang tidak diasah.
Menjaga Waktu Istirahat
Padatnya rutinitas tidak boleh mengabaikan kesehatan fisik dan mental. Pikiran yang jernih membutuhkan istirahat yang cukup. Di tengah jadwal Pondok Pesantren Nurul Ummah yang padat, usahakan untuk sudah beristirahat maksimal pukul 00.00 agar kondisi tubuh tetap prima menyambut aktivitas esok hari.
Untuk menjadi santri dan mahasiswa berprestasi, seseorang tidak perlu menunggu hebat baru berani memulai. Kehebatannya justru dibentuk dari keberanian untuk memulai saat ini juga.
Penulis: Abdullah Irfan S.H. (Pengurus Pondok Nurul Ummah, awardee BIB 2026)
Gambar: Dokumentasi Pondok
