ما إن مدحت محمدا بمقالتي * لكن مدحت مقالتي بمحمّد
Aku tidaklah memuji Nabi Muhammad SAW. dengan ucapanku, tetapi justru ucapankulah yang terpuji karena Nabi Muhammad SAW. -Hasan bin Tsabit
Peradaban sastra Islam tidak lahir serta merta. Ia terbangun megah dan tidak tergerus masa, karena dibangun dari pondasi yang kuat: Nabi Muhammad SAW., sosok penuh kasih yang kepadanya kita dengan mudah memberikan cinta. Secara lahiriah, peradaban sastra ini memang memuji kebesaran Nabi, tetapi pada hakikatnya ia menjadi besar justru karena kebesaran Nabi itu sendiri. Peradaban sastra Islam ini mewujud dalam berbagai dimensi, dan merambah pada berbagai wilayah dan peradaban. Ia terus eksis dan tumbuh, hingga kita pun beruntung dapat merasakan jatuh cinta yang sama kepadanya sebagaimana yang dirasakan para ulama. Jalan inilah yang akan kita telusuri bersama melalui artikel jurnal One Poem, Three Forms: Textual, Visual, and Ritual Uses of Qasidat al-Burdah in Ottoman Literary Culture1 karya Berat Açil (2026) dan beberapa artikel lainnya.
Pintu masuk yang akan kita pakai adalah Qasidat al-Burdah, salah satu karya sastra terbesar tentang Nabi Muhammad SAW. yang terus disenandungkan hingga sekarang. Ada dua versi terkenal dari Qaṣīdat al-Burdah, yaitu karya Ka’b bin Zuhayr (dari masa Nabi) dan karya al-Būṣīrī (abad ke-13 M), yang keduanya sama-sama populer dalam budaya sastra Islam dan sering disebut dengan judul yang sama. Sebuah karya anonim menyebut karya Zuhayr sebagai “Burdah asli” (ḥaqīqī) dan karya al-Būṣīrī sebagai “Burdah metaforis” (majāzī). Namun pendapat umum lebih condong memilih menggunakan istilah yang sama untuk kedua versi tersebut.
Artikel jurnal ini sendiri fokus pada Qasidat al-Burdah karya Imam al-Būṣīrī. Imam al-Būṣīrī merupakan seorang penyair, qari’ al-Qur’an, dan seorang sufi, yang lahir di Mesir, lalu tinggal di Yerusalem, Makkah, dan Madinah sebelum kembali ke Mesir, di mana ia wafat pada akhir abad ke-13. Puisi gubahannya disebut sebagai burdah atau jubah dalam bahasa arab karena ada cerita menarik di baliknya. Konon, Imam al-Būṣīrī menderita sakit yang membuatnya lumpuh. Suatu malam, ia menulis puisi ini dan dalam mimpinya, Nabi Muhammad SAW. datang, menyelimutinya dengan jubah beliau (burdah), dan menyembuhkannya. Inilah sebabnya mengapa puisi ini bukan hanya sekadar karya sastra, tetapi juga menjadi benda sakral yang dihormati.
Penelusuran pada berbagai artikel ilmiah mengantarkan pada pemahaman, bahwa Qasidat al-Burdah ini mengejawantah pada tiga dimensi besar (teks, visual, dan ritual) di peradaban Islam: kekaisaran Ottoman maupun di luarnya seperti di Nusantara. Dimensi teks menunjukkan bagaimana Burdah diterjemahkan, dikomentari (syarah), dan diolah ulang dalam berbagai bentuk tulisan. Bahasa yang digunakan beragam: mulai dari bahasa Arab, Turki, Persia, sampai Jawa. Açil mencatat ada 41 karya dalam bentuk prosa dan 42 karya dalam bentuk bait/nazham dalam peradaban Ottoman pada abad 15 sampai abad 20 awal yang terinspirasi dari Qasidat al-Burdah ini. Peradaban nusantara sendiri tidak mau ketinggalan dalam merayakan Burdah dan cinta pada nabi ini. Kita memiliki kitab Syarah al-Burdah karya Syekh Nawawi al-Bantani berbahasa arab (Mardiah, 20222), dan Al-Mahabbah wal Mawaddah fi Tarjamah Qouli Burdah, kitab terjemahan Burdah dalam bahasa Jawa karangan Kiai Sholeh Darat (Hakim, 20203).
Selain dalam bentuk teks, Qasidat al-Burdah juga mewujud dalam bentuk seni dan arsitektur, yang tergolong sebagai dimensi visual. Bentuk ini menunjukkan bagaimana bait-bait puisi Burdah tidak hanya dibaca, tetapi juga ditulis dan dipajang sebagai kaligrafi di berbagai tempat. Kaligrafi bait Burdah ditulis di air mancur wudhu Masjid Hagia Sophia sebagai elemen dekorasi sakral yang memberikan berkah dan keindahan. Di Ruang Buah Istana Topkapı, kaligrafi Burdah menghiasi dinding kamar pribadi Sultan, berdampingan dengan lukisan bunga dan buah-buahan. Ada pula manuskrip karya al-Amasi pada abad 17, yang menyusun sepuluh versi terjemahan dalam tiga bahasa sekaligus dalam satu halaman, dengan tata letak dan warna yang indah. Di Nusantara, orang-orang menuliskan bait-bait Burdah tertentu di pintu rumah sebagai penjaga dan penambah wibawa, menjadikannya perantara perlindungan dari sengatan matahari bagi jamaah haji, atau menyimpannya di dompet saat bepergian (Millie & Syihabuddin, 20054).
Bentuk ketiga dari peradaban sastra yang dibentuk Burdah ini yaitu dimensi ritual, dimana Burdah dihidupkan melalui tradisi dan ibadah. Dimensi ini menjadi yang paling hidup, sekaligus praktis dalam keseharian masyarakat muslim, dimana Burdah dibacakan, dilantunkan, dan bahkan dinyanyikan dalam berbagai acara. Puisi ini menjadi bagian penting dari pertemuan-pertemuan (majelis). Di Ottoman, ada aturan-aturan khusus untuk membacakannya, seperti harus dalam keadaan suci (berwudhu), menghadap kiblat, dan mendapatkan izin dari guru. Puisi ini juga dinyanyikan dengan irama yang merdu. Bahkan, dalam sistem pendidikan Ottoman, murid-murid, terutama perempuan, harus bisa membaca dan melantunkan Burdah dengan baik untuk bisa lulus sekolah. Orang Ottoman juga percaya bahwa membaca Burdah dengan aturan tertentu dapat mendatangkan manfaat. Misalnya, membacanya 41 kali untuk perlindungan dari wabah, atau 101 kali agar mendapat mimpi bertemu Nabi.
Dimensi ritual ini bisa dilihat dengan jelas di Pesantren Nurul Ummah. Burdah termasuk salah satu qasidah yang paling akrab bagi santri di sini. Kitab ini dibaca dalam pembacaan sholawat mingguan dan secara rutin di bulan Maulid menjelang 12 Rabiul Awal. Setiap malam senin, syarah kitab ini dikaji. Santri mengkaji kitab Rahīq al-Wardah fī Syarḥ al-Burdah, sebuah kitab syarah Burdah yang ditulis pada era kontemporer yang menjelaskan bait burdah dengan sistematis. Kajian ini diampu oleh Ust. Bahrun Najja, M.Hum. yang juga sedang berkhidmat sebagai Kepala Madrasah Diniyah Nurul Ummah (2024-sekarang). Ketika ditanya bait Burdah favoritnya, Ia memilih bait:
وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ مُلْتَمِسٌ # غُرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
Dan semua mereka (para wali dan ulama) dari Rasulullah ﷺ mengharap. Seteguk air dari lautan (ilmunya) atau setetes dari awan hujan (karunianya)
Bait ini saya kira juga tepat untuk menggambarkan keseluruhan dari peradaban sastra Islam yang terpengaruhi oleh cinta pada Nabi, yang sedang kita telusuri kali ini. Peradaban sastra Islami yang tercermin dalam berbagai karya sastra di era Ottoman dan Nusantara berangkat dari satu simpul alunan bait Qasidat al-Burdah yang indah. Peradaban sastra yang lahir dari qasidah ini hanyalah seteguk air dari lautan atau setetes dari awan hujan yang bersumber dari mata air kasih yang bernama Nabi Muhammad SAW. Qasidah al-Burdah ini menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat Islam, dari sultan di istana Ottoman, ulama di madrasah, hingga rakyat biasa di masjid, surau dan pesantren pelosok Nusantara. Penelusuran ini menunjukkan bahwa sastra yang terinspirasi dari cinta pada nabi ini bukanlah sesuatu yang kaku dan hanya ada di buku, tetapi sesuatu yang hidup, bernapas, dan berinteraksi dengan setiap aspek kehidupan.

Tulisan ini adalah bagian dari kolom khusus “Celebrating the Prophet” oleh Nuzula Nailul Faiz, yang menelusuri legasi Nabi Muhammad SAW. di era sekarang melalui perspektif akademisi lintas disiplin dalam jurnal-jurnal internasional, tayang di nurulummah.com menjelang puncak perayaan Maulid Nabi 1448 H.
Gambar : generate AI
- Açıl, B. (2026). One Poem, Three Forms: Textual, Visual, and Ritual Uses of Qaṣīdat al-Burdah in Ottoman Literary Culture. Religions, 17(7), 788. https://doi.org/10.3390/rel17070788 ↩︎
- Mardiah. (2022). Konsep pendidikan akhlak menurut syekh nawawi al-bantani dalam kitabnya maroqil ubudiyah [Thesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/62713/1/Mardiah%2021180110000026.pdf ↩︎
- Hakim, T. (2020). Tafsir Jawa Qashidah Burdah Al-Bushiri: Ajaran Kiai Sholeh Darat Tentang Nilai dan Kesadaran Etis-Eskatologis. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 11(1), 61. https://doi.org/10.37014/jumantara.v11i1.857 ↩︎
- Millie, J., & Syihabuddin. (2005). Addendum to Drewes; The Burda of Al-Busiri and the miracles of Abdulqadir al-Jaelani in West Java. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, 161(1), 98–126. https://doi.org/10.1163/22134379-90003716 ↩︎
