Kalender akademik telah menunjukkan masuknya tahun ajaran baru. Tandanya, para siswa mulai menjalani kehidupan barunya. Mereka yang baru lulus SD, mulai beradaptasi dengan SMP atau MTs-nya, yang lulus SMP, juga beradaptasi dengan SMA atau MA, pun juga yang lulus SMA atau MA-nya, akan beradaptasi dengan universitasnya yang baru. Namun dari beberapa jenjang pendidikan tersebut yang paling umum adalah mereka tetap tinggal di rumah bersama orang tua dan keluarga.
Namun bagi seorang santri, kehidupan barunya di pondok pesantren sangatlah berbeda dengan kehidupan sebelumnya di rumah. Perbedaan ini tidak hanya soal lingkungan baru, atau teman baru, melainkan tentang belajar hidup jauh dari orang tua-bukan sehari atau dua hari, melainkan bisa berbulan-bulan hingga masa liburan datang.
Kehidupan yang jauh dari orang tua, merupakan pengalaman baru bagi santri yang tidak ditemukan di sekolah-sekolah konvensional yang tidak menerapkan sistem asrama. Ketika seorang anak menyandang status santri, tandanya ia harus hidup serba sendiri. Kesendirian (solitude) disini bukan dalam arti terisolasi atau dikucilkan, tetapi kesendirian yang dimaksud ialah yang arahnya menuju kemandirian. Kesendirian ini terwujud dalam banyak sifat kedewasaan yang telah dilatih sejak awal masuk pondok. Seperti sifat disiplin, sifat mandiri dan sifat tanggung jawab.
Pelajaran Pertama Sebagai Santri
Ketika hari pertama diantarkan orang tua di pesantren, perasaan seorang santri tentunya diliputi banyak emosi. Seperti anak ayam yang terpisah dari induknya, dia bakal merasa bingung, malu, sedih, takut. Namun demikian, ada pula beberapa yang menunjukkan emosi sebaliknya, seperti bahagia karena mendapatkan banyak teman baru.
Namun di balik itu, perjalanan pendewasaan seorang santri dimulai dengan kesendirian. Pada awalnya, kesendirian akan terasa ketika pola hidupnya sudah tidak diawasi oleh orang tuanya. Perasaan bebas, ingin mencoba hal baru dan mungkin ajakan teman-temannya untuk bermain lebih jauh, pasti akan terjadi. Pada keadaan inilah, seorang santri dihadapkan pada persoalan disiplin. Bukan disiplin yang militeristik, melainkan disiplin yang mampu menempatkan diri sesuai dengan waktunya.
Selain persoalan kedisiplinan, santri baru juga harus menghadapi keadaan new normal (kehidupan baru), terkhusus pada hal yang menyangkut dirinya maupun bersinggungan dengan orang lain. Ia dihadapkan pada kemandirian yang lebih banyak, ketimbang saat masih tinggal dirumah bersama orang tuanya.
Kemandirian
Kemandirian baru dapat terlihat saat ia mencuci pakaian sendiri, lalu menjemurnya, dan melipatnya kembali. Terlihat sebagai hal yang sederhana, namun di sana ada pembelajaran pelajaran tentang merawat benda yang dimiliki. Saatpakaian tidak ada saat hendak diangkat setelah dijemur, entah karena jatuh atau tidak sengaja terbawa teman, santri juga akan belajar tentang tanggung jawab ketika ditanya oleh orang tua. Hal ini juga tidak hanya terbatas pada pakaian. Tanggung jawab juga pada hal lain yang tadinya diurus oleh orang tua, sekarang harus ditangani oleh diri sendiri.
Pelajaran pertama sebagai santri merupakan pelajaran yang menyangkut pengembangan mentalnya sendiri. Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam ilmu psikologi, bahwa kesendirian seseorang-dalam hal ini santri-yang secara sadar ia gunakan untuk lebih mengenal, menjiwai, dan merefleksikan dirinya, merupakan tindakan yang positif.
Bayangkan, kesendirian yang terbalut dalam kemandirian santri ketika mencuci bajunya sendiri, berapa banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk memikirkan proses penempaan hidupnya di pesantren. Pun juga, masih banyak aktivitas-aktivitas yang dapat memicu seorang santri berkontemplasi dengan dirinya sendiri.
Dengan begitu, ketika santri sedang dalam masa-masa pendewasaan dirinya, ia akan membutuhkan sosok yang mampu menjadi kompas dan rambu-rambu bagi jalan kehidupannya. Dalam hal ini, peran tersebut terletak pada sosok Kiainya.
Kiai Sebagai Figur Panutan
Sebelum santri mengenal dan masuk di pesantren, orang tua merupakan figur yang kebijaksanaannya diajarkan kepada anaknya, petuah-nasihatnya selalu menjadi rujukan dirinya, dan akhlak baiknya selalu dicontohkan kepada penerusnya. Namun, ketika orang tuanya tidak ada di sampingnya, harus kemana santri baru mencari figur panutan sebagai pijakan beragama dan bersosial?
Jawabannya adalah Kiai atau pengasuh pesantren. Kiai sebagai orang tua keduanya di pesantren, posisinya sama seperti orang tua di rumah. Maksudnya adalah seorang Kiai juga memiliki peran untuk mendidik dan mengarahkan santri-santrinya menjadi pribadi yang baik dan bijak. Pendidikan tersebut tertuang dalam dua bentuk, pertama, pendidikan melalui pengajaran agama melalui kitab-kitab kuning. Kedua, pendidikan melalui contoh akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) sang Kiai.
Pengajaran kitab kuning di pesantren biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu ‘bandongan’ dan ‘sorogan’. Bandongan berarti kitab kuning dibacakan oleh sang kiai secara menyeluruh termasuk arti dan maksudnya kepada banyak santri sekaligus. Biasanya dilakukan di masjid atau aula. Sedangkan, sorogan adalah metode yang lebih intens dengan cara santri yang membaca dan mengartikan maksud dari kitab yang dibacanya tersebut satu per satu.
Dalam bandongan, berbagai khazanah kitab kuning diajarkan dengan satu tujuan, yakni agar santri-santrinya menjadi orang yang berilmu dan berbudi luhur. tujuan itu terangkum dalam daftar kitab yang diajarkan, seperti Akhlak, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an, Hadis dan Tasawuf. Sehingga, berlandaskan khazanah kitab kuning ini, para Kiai yang mengajar santrinya, mendidik dengan penuh pengetahuan.
Selain sebagai sumber keilmuan, kiai juga menjadi sumber keteladanan bagi santri. Seorang kiai biasanya disebut dengan “kitab yang hidup”. Maksudnya adalah seorang Kiai tersebut merupakan orang yang faham dan mampu menjalankan isi dari kitab yang dibacakannya. Sehingga ilmu yang tertulis dalam kitab, terwujud dalam akhlak mulia dirinya. Setiap gerak langkahnya, ialah ajaran dari kitab yang dituliskan oleh para Ulama, yang jika dirunut sumbernya akan sampai pada suri tauladan Rasulullah. Dengan begitu, seorang santri baru dapat belajar akhlak mulia dengan dipercontohkan langsung oleh figur panutannya.
Menjadi Seorang Santri
Jadi, ketika para siswa lain memulai perjalanan tahun ajaran barunya dengan teman dan suasana belajar baru, santri baru menempuh jalan yang melampaui itu. Mereka memilih untuk memulainya dengan memupuk kemandirian di kamar pesantren dengan terus berproses di bawah teladan sang Kiai. Pada akhirnya, hidup jauh dari orang tua bagi seorang santri bukanlah sebuah perpisahan yang menyedihkan dan harus ditangisi, melainkan langkah pertama baginya untuk menemukan jiwa sucinya-jiwa yang memandu dan membawanya kepada Tuhan-Nya yang maha Esa.
wa Allah a’lam bi as-sawab
