Inovasi Pewarna Batik Ramah Lingkungan Antarkan Santri MTs Nurul Ummah Yogyakarta Tembus 30 Besar Nasional

YOGYAKARTA — Peribahasa bahwa riset dan sains hanya milik sekolah unggulan non-pesantren ditepis oleh para santri MTs Nurul Ummah Yogyakarta. Lewat inovasi pemanfaatan limbah lokal sebagai pewarna batik alami, tim riset berbasis pesantren ini berhasil menembus jajaran 30 besar proposal terbaik nasional dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) bidang Riset.

Proposal riset berjudul “NATURA: Pewarna Batik Berbasis Limbah Gedebog Pisang dan Kulit Kakao dengan Bio Mordan Alami Daun Ketapang” sukses memikat para dewan juri nasional dan melaju ke tahap uji coba serta penelitian lanjutan.

Tim yang terdiri dari tiga santriwati—Nur Aini, Zakiyatul Wardah Khoirun Nisa’, dan Sarah Alinsyira—di bawah bimbingan Hafna Nashifatul Azkiya’ (alumni MA Nurul Ummah), mengusung fokus penelitian pada bidang Sustainable Development Goals (SDGs) serta Integrasi Keislaman dan Keilmuan (Ekoteologi).

Mengintegrasikan Pelestarian Budaya dan Teknologi Hijau 

Keunggulan utama dari gagasan riset “NATURA” terletak pada kemampuannya menyatukan tiga isu strategis sekaligus: pelestarian budaya batik, pengelolaan limbah pertanian, dan penerapan teknologi ramah lingkungan (Green Technology).

Inspirasi penelitian ini lahir dari interaksi dan pengalaman para santri di kawasan Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul—sebuah sentra pengrajin batik tradisional berkualitas yang juga merupakan kediaman Pengasuh PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, KH. Ahmad Zabidi Marzuqi.

“Kami melihat potensi limbah gedebog pisang dan kulit kakao yang melimpah, dipadukan dengan daun ketapang sebagai pengikat warna alami (biomordan). Ini menjadi solusi atas kebutuhan pewarna batik ramah lingkungan,” ujar perwakilan tim riset.

Sebelumnya, MTs Nurul Ummah juga mengajukan proposal riset bertajuk “JATI-FILTER” yang berfokus pada penanganan air keruh PAMSIMAS di pedesaan. Meski kedua proposal dinilai memiliki konsep berbasis komunitas yang kuat, proposal “NATURA” menjadi karya yang berhasil melenggang mewakili madrasah ke babak berikutnya di tingkat nasional.

Perjuangan 7 Hari di Tengah Kesibukan Pesantren

Pencapaian ini diraih bukan tanpa hambatan. Seluruh proses pengumpulan literatur, perumusan ide, hingga penulisan proposal diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 7 hari.

Para siswa harus menguras energi lebih untuk membagi waktu antara kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di madrasah, rutinitas kurikulum asrama pesantren, serta keterbatasan fasilitas akomodasi menuju lokasi objek penelitian.

Kunci keberhasilan mengatasi tantangan tersebut terletak pada pola komunikasi dan koordinasi yang intensif antara pihak madrasah, guru pembimbing, dan para siswa.

Dukungan penuh juga ditunjukkan oleh pihak madrasah melalui penyediaan fasilitas ruang riset, akses internet berkecepatan tinggi, penyediaan literatur, hingga keluwesan jadwal belajar (dispensasi) selama masa bimbingan intensif. Dari sisi spiritual, para orang tua santri turut memberikan restu dan doa penuh bagi perjuangan anak-anak mereka.

Persiapan Uji Laboratorium dan Pesan Motivasi

Menghadapi tahap berikutnya, Tim Riset MTs Nurul Ummah Yogyakarta kini tengah melakukan persiapan secara intensif. Langkah-langkah konkret yang dilakukan meliputi pematangan konsep, uji coba pembuatan produk pewarna alami di laboratorium, penyusunan media presentasi, hingga simulasi tanya jawab.

Pihak madrasah menyampaikan rasa syukur dan berharap ajang ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi para santri. Pihak sekolah menargetkan hasil terbaik, termasuk harapan untuk menembus jajaran 10 besar nasional.

“Jangan pernah minder menjadi seorang santri atau murid di madrasah berbasis pesantren. Riset dan sains tidak hanya untuk mereka yang berada di sekolah umum atau favorit. Kalian mempunyai kesempatan yang sama. Menang itu bonus, karena para santri ini pada dasarnya sudah menang di hati bapak dan ibu guru,” tutur Bapak Ainun Najib, selaku Kepala Madrasah memberikan motivasi.

Melalui pencapaian ini, MTs Nurul Ummah Yogyakarta membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi santri untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan lingkungan.

KategoriDetail Keterangan 
Judul Proposal LolosNATURA: PEWARNA BATIK BERBASIS LIMBAH GEDEBOK PISANG DAN KULIT KAKAO DENGAN BIOMORDAN ALAMI DAUN KETAPANG
Anggota Tim Riset1. Nur Aini
2. Zakiyatul Wardah Khoirun Nisa’
3. Sarah Alinsyira
Guru PembimbingHafna Nashifatul Azkiya’
Bidang RisetSustainable Development Goals (SDGs) & Ekoteologi
Capaian30 Besar Proposal Terbaik Nasional (Olimpiade Madrasah Indonesia Bidang Riset)

2 thoughts on “Inovasi Pewarna Batik Ramah Lingkungan Antarkan Santri MTs Nurul Ummah Yogyakarta Tembus 30 Besar Nasional”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *