SHALAWAT: AMALAN YANG PASTI DITERIMA?

Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

Bulan Rabiul Awal selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini menjadi momen untuk kembali mengingat sosok manusia paling mulia yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Di berbagai tempat, shalawat dilantunkan, kisah kelahiran dan perjuangan beliau dibacakan, serta majelis-majelis maulid diselenggarakan sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Di antara berbagai amalan yang banyak diamalkan pada bulan ini, shalawat merupakan ibadah yang paling ringan di lisan, tetapi memiliki keutamaan yang sangat agung. Menariknya, para ulama menjelaskan bahwa shalawat memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki amalan lainnya, yaitu kepastian diterimanya amalan tersebut sebagai bentuk pemuliaan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada dasarnya, setiap amal ibadah memiliki kemungkinan diterima atau ditolak oleh Allah SWT. Diterimanya suatu amalan bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat lahiriah maupun batiniah, seperti keikhlasan, terbebas dari riya, ujub, dan sifat tercela lainnya. Namun, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW mendapatkan pengecualian yang istimewa.

Hal ini ditegaskan oleh Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam kitab Kifayatul Atqiya hlm. 48:

وَأَنَّ جَمِيعَ الْأَعْمَالِ مِنْهَا الْمَقْبُولُ وَمِنْهَا الْمَرْدُودُ، إِلَّا الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهَا مَقْطُوعٌ بِقَبُولِهَا إِكْرَامًا لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحُكِيَ اتِّفَاقُ الْعُلَمَاءِ عَلَى ذَلِكَ.

“Seluruh amalan ada yang diterima dan ada yang ditolak, kecuali shalawat kepada Nabi Muhammad SAW Shalawat dipastikan diterima sebagai bentuk pemuliaan Allah kepada beliau. Bahkan, telah dinukil adanya kesepakatan para ulama mengenai hal tersebut.” 

Pernyataan ini menunjukkan bahwa keistimewaan shalawat bukan semata karena amalan tersebut ringan dilakukan, melainkan karena kemuliaan Rasulullah SAW. di sisi Allah SWT. Pertanyaannya, mengapa shalawat memiliki kedudukan yang begitu istimewa?

Jawabannya dijelaskan oleh sebagian ulama arif dalam kitab Al-Manhaju as-sawi hlm. 714. Mereka menerangkan bahwa shalawat memiliki keutamaan khusus karena menjadi sebab kegembiraan Rasulullah SAW:

الرابعة: قال بعض العارفين: إن الصلاة على النبي لا تحتاج إلى شيخ ولا حضور، ولا يضرها الرياء ولا غيره لسرور المصطفى؛ لأن من علم يعدله شيء؟ قال: وكذلك عليه فرح منه، وثواب فرح النبي ﷺ ما الصدقة، فإن لها وجهين من جهة الثواب؛ فالثواب المترتب عليها لا يتحقق إلا مع خلوص النية فيها، والثواب المترتب على فرحة أخيك المسلم لا يضره الرياء. انتهى.

“Sebagian orang arif berkata, shalawat kepada Nabi tidak memerlukan bimbingan seorang syekh ataupun kehadiran hati secara sempurna. Shalawat tidak dirusak oleh riya dan selainnya karena ia mendatangkan kegembiraan bagi Al-Musthafa. Sebab, tidak ada sesuatu yang dapat menandingi pahala menggembirakan Nabi SAW. Berbeda dengan sedekah yang pahalanya berkaitan dengan keikhlasan niat, sedangkan pahala karena menggembirakan saudara muslim tidak terhalangi oleh riya.” 

Hal serupa juga ditegaskan lagi dalam kitab Al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 213, pada bab Keutamaan Bershalawat kepada Nabi SAW dan Peringatan untuk Meninggalkannya, disebutkan:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ الْأَعْمَالِ مِنْهَا الْمَقْبُولُ وَالْمَرْدُودُ إِلَّا الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ، فَإِنَّهَا مَقْطُوعٌ بِقَبُولِهَا إِكْرَامًا لَهُ

“Para ulama sepakat bahwa seluruh amal ada yang diterima dan ada yang ditolak, kecuali shalawat kepada Nabi SAW, karena shalawat tersebut dipastikan diterima sebagai bentuk pemuliaan kepada beliau.”

Penjelasan ini mengandung makna bahwa shalawat ini bukan sekadar rangkaian lafaz pujian, tetapi juga bentuk penghormatan yang mendatangkan kegembiraan bagi Rasulullah SAW dan bentuk pemuliaan kepada beliau. 

Dalam kitab tersebut juga dikisahkan Abul Mawahib asy-Syadzili yang bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpinya, ia bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، صَلَاةُ اللَّهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً، هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَضَرَ الْقَلْبُ؟

“Wahai Rasulullah, hadis tentang Allah memberikan sepuluh rahmat kepada orang yang bershalawat kepadamu satu kali, apakah itu hanya berlaku bagi orang yang membaca shalawat dengan hati yang hadir?”

Rasulullah SAW. menjawab:

لَا، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلًا

Artinya, “Tidak. Bahkan itu berlaku bagi setiap orang yang bershalawat kepadaku, meskipun ia dalam keadaan lalai.”

Dari beberapa pernyataan para ulama dan kisah diatas, ini menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah melalui shalawat. Bahkan ketika seseorang belum mampu menghadirkan kekhusyukan secara sempurna, shalawat yang ia baca tetap bernilai ibadah dan mendatangkan limpahan rahmat Allah. Tentu saja, hal ini bukan berarti seseorang dianjurkan bershalawat tanpa keikhlasan. Semakin hadir hati, semakin besar pula kesempurnaan pahala yang diperoleh. Keistimewaan ini menunjukkan keluasan rahmat Allah, bukan pembenaran untuk mengabaikan adab dalam beribadah.

Meski demikian, mengenai kepastian diterimanya shalawat, khususnya ketika disertai riya, terdapat beberapa perbedaan penjelasan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa sholawat tetap diterima meskipun terdapat riya, sementara sebagian lainnya berpandangan bahwa riya dapat merusak amalan shalawat. Ada pula ulama yang melihat persoalan ini dari dua sisi, yaitu dari sisi orang yang bershalawat dan dari sisi Rasulullah SAW sebagai pihak yang menjadi tujuan shalawat. Perbedaan penjelasan tersebut menunjukkan adanya rincian dalam memahami keistimewaan shalawat. Namun, semuanya tetap menegaskan kemuliaan dan keutamaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Terlepas dari perbedaan tersebut, bulan Rabiul Awal merupakan momentum yang baik untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jangan menjadikan shalawat hanya sebagai amalan ketika menghadiri majelis maulid, tetapi biasakan pula membacanya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan memperbanyak shalawat, Allah SWT. melimpahkan rahmat kepada kita, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta mengumpulkan kita bersama beliau kelak di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. 


Penulis: Achmad Roihan Jauhari, M.H.

Ilustrasi Gambar: Generated AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *